Beranda Uncategorized

Inovasi Pupuk untuk Swasembada Pangan

BERBAGI
DIKUKUHKAN: Tiga profesor riset Kementerian Pertanian dikukuhkan di Auditorium Sadikin Sumintawikara, Cimanggu, Tanahsareal, kemarin (14/8).

BOGOR–Pengukuhan tiga profesor riset Kementerian Pertanian di Auditorium Sadikin Sumintawikara, Cimanggu, Kecamatan Tanahsareal, kemarin (14/8) diwarnai berbagai inovasi. Salah satunya soal inovasi pemupukan dengan teknologi yang ramah lingkungan. Yaitu, inovasi pemupukan berbasis keseimbangan hara terintegrasi.

Dalam orasi pengukuhannya sebagai profesor riset Kementerian Pertanian, Prof Dedi Nursyamsi memaparkan Inovasi Pemupukan Berbasis Keseimbangan Hara Terintegrasi untuk Mendukung Swasembada Pangan Nasional.

Penyempurnaan inovasi pemupukan berbasis keseimbangan hara terpadu dilakukan dengan melengkapi teknologi yang ada, melalui penambahan pupuk organik, hayati, dan dekomposer. Menurut Prof Dedi, upaya ini dapat menghemat penggunaan pupuk sampai 20 persen.

Teknologi ini diimplementasikan secara utuh melalui paket Jarwo Super. Yaitu, melalui pengintegrasian inovasi pemupukan berbasis keseimbangan hara terintegrasi dengan teknologi lain, seperti penggunaa varietas unggul baru Inpari 30 dan Inpari 31, penerapan tanam jajar legowo, penggunaan pestisida, Jarwo Transplanter dan Hanester.

“Bila diterapkan secara masif oleh seluruh petani padi, inovasi ini akan memberikan tambahan keuntungan setara dengan Rp180 triliun per tahun,” ungkapnya di tengah-tengah orasi.

Selain keuntungan ekonomi, inovasi pemupukan berbasis keseimbangan hara terintegrasi diyakini mampu menjawab berbagai tantangan swasembada pangan yang semakin kompleks. Terutama terkait isu percepatan peningkatan produktivitas dan efisiensi faktor produksi serta masalah lingkungan dan perubahan iklim.

Pada kesempatan yang sama juga dikukuhkan dua orang profesor riset lainnya, yaitu Prof Didik Harnowo dengan orasi berjudul Inovasi Teknologi Benih Kedelai untuk Memacu Pengembangan Industri Hilir Perbenihan, serta Prof I Nyoman Widiarta dengan orasi berjudul Reformulasi Paket Pengendalian Penyakit Tungro Terpadu pada Tanaman Padi dalam Era Revolusi Hijau Lestari.

Dengan diwakili Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Muhammad Syakir, Menteri Pertanian Amran Sulaiman memberikan tantangan kepada ketiga profesor riset yang baru. Mereka diminta membuktikan penerapan teknologi yang mereka hasilkan, dalam skala luas di lahan petani.(rp1/c)

Komentar Anda