Beranda Nasional

Warisan Kearifan dan Keteladanan Prabu Siliwangi (1)

BERBAGI

Kepopuleran Prabu Siliwangi di kalangan masyarakat Sunda dan Nusantara sangatlah tinggi, sehingga kadang melampaui dimensi sejarah dan menembus batas mitologis dan legendaris. Namun demikian, bagi sebagian generasi muda –yang sudah banyak terpapar dan terimbas teknologi informasi modernisme global- legenda sejarah Prabu Siliwangi itu belumlah terlalu menyebar merata. Padahal warisannya sangat berharga bagi masa depan mereka, dan kita semua.

Tulisan ringkas ini mencoba mengais kembali apa yang masih tersisa dan selayaknya dilestarikan dari kearifan budaya dan karakter adab leluhur Sunda tersebut, yang tentunya tidak hanya akan bermanfaat bagi orang Sunda saja, tetapi juga bagi bangsa kita Indonesia dan bahkan bagi kemanusiaan sedunia, saat ini.

Walaupun banyak informasi tentang ketokohan Eyang Prabu Siliwang yang tidak hanya merujuk kepada satu tokoh raja Sunda Pakuan Pajajaran historis saja, namun secara umum merujuk kepada Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata (sebagaimana namanya tercatat dalam Prasasti Batu Tulis yang ada di Bogor).

Berdasarkan Prasasti Batutulis berangka tahun 1533 M (1455 Saka), disebutkan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, sebagai raja yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Prasasti ini terletak di Jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.

Prasasti Batutulis dianggap sebagai penanda lokasi situs ibu kota Pajajaran. Prasasti ini dikaitkan dengan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno. Prasati ini dibuat oleh Prabu Sanghiang Surawisesa (putra Prabu Siliwangi Sri Baduga Maharaja, yang melakukan perjanjian dengan Portugis) dan menceritakan kemashuran ayahandanya tercinta (Sri Baduga Maharaja) sebagai berikut:

0 0 wang na pun ini sakakala, prebu ratu purané pun, diwastu
diya wingaran prebu guru déwataprana diwastu diya dingaran sri
baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu dé-
wata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang nis-
kala sa(ng) sida-mokta di gunatiga i(n)cu rahyang niskala wastu
ka(n)cana sa(ng), sida-mokta ka nusalara(ng), ya siya nu nyiyan sakaka-
la gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga
rena mahawijaya, ya siya pun 0 0 i saka, panca pandawa ‘(m)ban bumi 0 0

Sejarawah dan ilmuwan Saléh Danasasmita, menerjemahkan isi prasasti itu demikian:
“Semoga selamat, inilah tanda peringatan Prabu Ratu almarhum. Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan.

Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka “Panca Pandawa Mengemban Bumi”.

Dengan demikian keberadaan Kerajaan Pakuan Pajajaran Bogor tidak bisa dibantah lagi bukti-buktinya, walaupun ada salah seorang sejarawan yang menolak dan menganggap Kerajaan Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi-nya cuma mitos saja. Salah satunya yang terkuat adalah Prasasti Batutulis yang sudah diterjemahkan bahasanya, script atau tulisannya oleh beberapa ahli, di antaranya Friederich (1853), Holle (1869), Pleyte (1911), Purbacaraka (1921), dan Noorduyn (1957).

”Orang Portugis yang mengunjungi Pakuan dalam pertengahan Agustus 1522 untuk memenuhi undangan Prabu Surawisesa, putera serta pengganti Sri Baduga mencatat bahwa penduduk Pakuan kira-kira 50.000 orang (belum termasuk penduduk sekitar kota).

Tome Pires dari Portugis itu juga mencatat kemajuan pada zaman Sri Baduga: ”The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men”. (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur) juga diberitakan bahwa bahwa kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke Kepulauan Maladewa (Afrika) dan produksi lada yang mencapai hasil 1.000 bahar setahun. Bahkan hasil komoditi dagang tamarin (asem) cukup untuk mengisi muatan seribu buah kapal dan perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4 ribu ekor setahun.

Demikian informasi yang dapat kita ketahui mengenai situasi masa lalu termasuk situasi masa lalu kota yang kita sebut “Bogor” sekarang. Menurut Pustaka Nusantara III/I dan Krethabumi I/2 “Pajajaran/Kota Pakuan lenyap pada tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka atau tanggal 8 mei 1579 Masehi akibat serbuan Maulana Yusuf (cicit Sri Baduga Maharaja) dari Kesultanan Banten.”

Waktu antara Pajajaran sirna sampai “ditemukan” kembali oleh ekspedisi VOC yang dipimpin oleh Scipio (1703) berlangsung kira-kira seratus tahun. Kota kerajaan yang pernah berpenghuni 50.000 orang ini ditemukan oleh tim ekspedisi Scipio sudah menjadi ”puing-puing yang diselimuti oleh hutan tua” (“geheel met out bosch begroeijt zijnde).

(Penulis adalah penulis beberapa buku sejarah dan Buku Kerajaan Pakuan Pajajaran di Tengah Pusaran Sejarah Dunia, Sekretaris 2 Sunda Ormas Langgeng Wisesa/SLW)

Komentar Anda