Beranda Metropolis

Setiap Hari, Tiga Perempuan Jadi Janda

BERBAGI

BOGOR–Jumlah janda baru di Kota Bogor dalam kurun waktu tujuh bulan ini cukup membuat geleng-geleng kepala. Berdasar data dari Pengadilan Agama (PA) Kelas IB Kota Bogor, hakim setempat memutus 796 kasus perceraian selama satu semester lebih ini. Artinya, setiap hari ada sekitar tiga orang mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Sebagian besar merupakan perkara cerai gugat. Yakni, istri yang mengajukan gugatan cerai.

“Paling banyak mengajukan itu memang dari pihak istri. Hingga pertengahan tahun sudah ada 620 istri yang mengajukan perkara cerai, sedangkan cerai talak ada 176,” ujar Panitera Muda Pengadilan Agama Bogor Kelas I A, Agus Yuspiain.

Dari data yang dia miliki, angka perceraian dari tahun ke tahun cenderung naik. Pada 2016, tercatat sebanyak 1.632 kasus perceraian. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, ada peningkatan sebanyak 104 kasus. Pada 2015, kasus gugatan cerai di Kota Bogor mencapai 1.528 kasus. Tingginya kasus perceraian di kota hujan, mayoritas karena tidak adanya keharmonisan. Lalu, disusul krisis akhlak dan tidak bertanggung jawab.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Bogor, Artiana Yanar Anggraini mengatakan, salah satu penyebab tingginya ketidakharmonisan adalah kurangnya komunikasi. Apalagi, peluang hilangnya komunikasi pasangan suami istri semakin besar di era digital seperti sekarang. “Gadget yang semakin masif digunakan justru membuat sikap individualis semakin tinggi,” ujarnya.

Selain itu, krisis akhlak juga memiliki andil besar dalam perceraian. Fondasi agama, menurut dia, sangat berperan dalam membentuk karakter keluarga yang harmonis. Masalahnya, banyak kasus para suami yang tidak mampu bertanggung jawab menafkahi keluarganya. “Makanya, kemata­ngan ekonomi keluarga itu penting, karena menjadi salah satu faktor jaminan keluarga tersebut sejahtera,” ucapnya.

Sementara itu, fenomena cerai gugat yang hampir dua kali lipat dibandingkan cerai talak menjadi tren baru saat ini. Dalam kasus ini, salah satunya disebabkan posisi perempuan yang lebih mandiri. Selama ini perempuan dipandang sebagai sosok yang hanya mampu berkutat di dalam rumah, khususnya dapur. Namun, mindset tersebut sudah berubah. “Akibatnya, emansipasi mendorong perempuan untuk bangkit. Misalnya, soal karier,” beber Artiana.

Perempuan yang berfokus pada karier, kata dia, memiliki kecenderungan untuk mengesampingkan keluarga. Itu ditambah dengan beban pekerjaan yang sering terbawa hingga ke rumah. “ Hal inilah yang kemudian sering memicu gesekan dengan sang suami,” ucapnya.

Tingginya angka perceraian tersebut dinilainya sangat mengkhawatirkan. Sebab, akan berdampak pada anak dalam keluarga tersebut. “Ruang lingkup terkecil untuk mendidik anak adalah keluarga. Karena itu, jika keluarganya bermasalah, anaknya juga bisa ikut berma­salah,” ujarnya.(pkl6/rp1/c)

Komentar Anda