Beranda Berita Utama

Bukti Lemahnya ”Reproduksi” Kader

BERBAGI

BOGOR-Polling Radar Bogor ”Siapa Layak Pimpin Kota Hujan’’ mendapat sorotan berbagai pihak. Ada yang nyinyir tapi mayoritas mengapresiasi. Ada pula yang merasa mendapat angin, dan menilai polling dapat menjadi ”peluru’’ untuk Pilwalkot Bogor 2018.

Edgar Suratman adalah salah satu sosok yang masuk dalam polling tersebut. Kini namanya tengah menjadi perbincangan di kalangan birokrat Kota Hujan.
Ditemui Radar Bogor kemarin, Edgar tak membantah hal itu. “Saya menghargai hasil pandangan dari tokoh msyarakat Bogor dari berbagai elemen, saya berterima kasih untuk itu,” ujarnya kepada pewarta, kemarin.

Menurut Edgar, secara umum hasil polling tersebut dapat mencerminkan gambaran awal tentang ekspektasi figur yang dianggap layak memimpin Kota Bogor. Edgar sendiri tak mau buru-buru, sehingga dirinya belum mendeklarasikan diri untuk maju dalam pilwalkot mendatang.

“Saya cenderung menunggu proses termasuk proses tahapan pensiun yang sudah disampaikan ke Mendagri. Ini semua aspirasi dari bawah yang menginginkan saya untuk maju. Tetapi, belum ada niat untuk mendeklarasikan diri,” tuturnya.

Edgar mengaku masih perlu waktu dan melihat perkembangan ke depan. “Kemungkinan September sudah ada jawaban. Mudah-mudahan saya bisa mempersiapkan diri untuk dapat bekerja maksimal. Intinya, saya merespons keinginan masyarakat,” ujarnya.

Ketua PMI Cabang Kota Bogor tersebut juga menegaskan jika banyak yang menghendaki dirinya untuk maju dalam pilwalkot. “Saya akan mempertimbangkan aspirasi masyarakat yang menghendaki saya mau maju,” ujarnya.

Apresiasi serupa juga disampaikan Ketua DPD PKS Kota Bogor, Atang Trisnanto. “Kami sampaikan selamat kepada Kang Bima (Bima Arya) yang secara polling hasilnya tinggi. Semoga tetap fokus pada penyelesaian amanah-amanah publik yang telah diberikan oleh rakyat Kota Bogor,” ujarnya.

Atang juga meyakini, mesin partai masih berjalan dengan baik. Setiap waktu dirinya selalu berkonsolidasi dengan berbagai kalangan dan masyarakat. Dia juga menegaskan PKS tidak terpengaruh dengan konstelasi isu ataupun berita-berita yang beredar di lapangan. “Hasil survei kami, Pak Ru’yat tidak terlalu berbeda jauh angka popularitas maupun elektabilitasnya dengan Bima Arya sebagai tokoh yang terpopuler untuk saat ini. Itu wajar karena beliau sebagi walikota,” tuturnya.

Meski demikian, konstelasi angka elektabilitas diyakini akan berubah drastis saat paska pendaftaran calon. “Sangat besar peluangnya, kami mendasarkan pada aspek faktual dan ilmiah, bukan framing, terlebih, sebagai hamba yang beriman optimis itu harus,” tukasnya.

Di sisi lain, Ketua DPC Gerindra Kota Bogor, Sopian Ali Agam, menyebut partainya masih terus mematangkan internal. “Ya kalau bicara koalisi harus membawa siapa figurnya, jadi belum,” kata dia.

Sedangkan, Ketua (Plt) DPC Partai Demokrat Kota Bogor Usmar Hariman sendiri mengaku, sampai saat ini masih terus melakukan sosialisasi terhadap masyarakat. “Saya gak ada masalah, enak-enak saja komunikasi dengan masyarakat, tinggal program-programnya yang lebih baik lagi,” tuturnya. Apalagi, menurut Usmar, saat ini yang dialami masyarakat adalah ketidakpastian ekonomi. “Maka, meningkatkan daya beli masyarakat itu penting, dengan menumbuhkan unit-unit usaha unggulan berbasis masyarakat menjadi sangat penting,” ujarnya.

Selain itu, infrastruktur, kemacetan dan sampah menjadi program dasar dan menjadi kewajiban dan tanggung jawab pemerintah. “Keamanan dan ekonomi jadi penting dan yang lebih utama penguatan keimanan masyarakat,” tukasnya.

Di bagian lain, pengamat politik Sofyan Sjaf berpendapat, polling Radar Bogor Senin (7/8) kemarin juga mesti menjadi cermin bagi para elite partai politik. Pasalnya, ”reproduksi” kepemimpinan di Kota Bogor terbukti lambat. Sehingga sejumlah nama politikus lama, saat ini muncul kembali. “Pertanyaannya, apakah Kota Bogor kekurangan leadership? Jawabannya tidak! Bogor punya banyak stok pemimpin. Hanya saja, media reproduksinya minim,” ujar staf pengajar di departemen ekologi manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.

Selain itu, Sofyan menilai partai politik di Kota Bogor tampak kurang percaya diri mengusung kadernya. Padahal, menurutnya, masih banyak politikus yang potensial jika dibentuk dan dipoles dengan ciamik.

“Saya juga menanggapi munculnya nama Hazairin Sitepu dalam polling tersebut. Kepemim­pinannya sudah teruji. Saya kira HS (Hazairin Sitepu) sudah saatnya mencari medan baru untuk menguji kepemim­pinannya,” imbuhnya.

Pengamat politik Maksimus Ramses Lalongkoe mengatakan, hasil polling menggambarkan realitas politik di tengah masyarakat. Penilaian masyarakat dalam menentukan tokoh yang mereka inginkan tentu didasari pertimbangan tertentu, rasional maupun primordial. Perbedaan persentase hasil polling juga dapat dianalisa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ketokohan, integritas, dan kemampuan masing-masing tokoh.

“Rakyat tentu memberi penilaian berdasarkan apa yang mereka lihat, apa yang mereka rasakan sehingga menentukan keputusan. Kalau lihat hasil poling itu memang Bima mendapat kepercayaan publik cukup signifikan dengan rentang yang cukup besar dengan tokoh lainnya. Tapi karena ini politik, ruang dinamika politik itu pun bisa berubah tergantung bagaimana para tokoh yang meningkatkan rasa kepercayaan publik terhadap mereka,” cetusnya.

Sementara itu, pengamat politik Yusfitriadi menduga, bakal ada tiga poros besar yang terbentuk jelang pesta demokrasi Kota Hujan. Yaitu, koalisi Partai Gerindra-PKS, PDIP-Nasdem-Hanura, dan poros Demokrat-PAN-PPP. “Tapi, parpol di Kota Bogor masih relatif cair dan masing-masing saling membuka diri dan menunggu. Mereka masih belum ada yang mempermanenkan koalisi sampai saat ini,” ujar Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Bogor tersebut.

Ada tiga faktor yang memengaruhi tiga poros tersebut. Faktor pertama tak lepas dari peta politik nasional. Meski terkadang daerah lebih dinamis, tapi pilwalkot tidak akan lepas dari peta politik nasional.

“Apalagi, secara regulasi, partai mewajibkan rekomendasi pasangan calon dari DPP Partai. Sehingga, tekanan-tekanan politik dari pusat tidak bisa dihindarkan di pilkada termasuk di Kota Bogor,” ujarnya.

Yus menambahkan, faktor lain yang memengaruhi adalah dinamika politik di tingkat provinsi. Hal ini terjadi karena agenda pilkada dilakukan serentak dengan Pilgub Jawa Barat. Dengan demikian, koalisi di tataran provinsi akan diusahakan untuk linier dengan koalisi di tingkat daerah yakni Kota Bogor.

“Faktor ketiganya, dinamika politik lokal di Kota Bogor sendiri. Sudah terjadi pergeseran kekuatan politik. Yang dulu pengusung Bima yakni Demokrat sebagai pemegang kekuasaan, saat ini sudah bergeser,” ujarnya.

Ia memaparkan jumlah kursi terbanyak saat ini dipegang PDIP sebanyak delapan kursi. Sementara Golkar dan Gerindra masing-masing enam kursi, PKS, PPP dan Partai Demokrat masing-masing lima kursi, PAN tiga kursi dan PBB hanya mendapatkan jatah satu kursi.(ded/d)

Komentar Anda