Beranda Metropolis

Melihat Sarasehan IDI se-Jabodetabek, Karawang dan Banten

BERBAGI
SERIUS: Para dokter se-Jabodetabek, Karawang dan Banten berkumpul di Bogor, membahas perkembangan dunia medis dan kesehatan.Nelvi Radar Bogor

Kota Bogor menjadi tuan rumah Sarasehan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) se–Jabodetabek, Karawang dan Banten, edisi kelima, yang dihelat di Hotel Permata, kemarin (6/8).
Dalam sarasehan tersebut, terungkap persaingan dokter kian masif. Para dokter tidak hanya bersaing dengan dokter lokal tapi juga dokter asing.

Laporan: Wilda Wijayanti

Ketua IDI Cabang Kota Bogor, dr Zainal Arifin mengatakan, sarasehan ini menjadi agenda rutin, sekaligus momentum untuk setiap IDI antarwilayah bisa berkomunikasi aktif dan mengantisipasi segala permasalahan yang terjadi di dunia medis.

Dalam pertemuan ini, para dokter membahas problem di lapangan dan tantangan– tantangan baru. Juga, adanya gempuran dokter asing. Karena itu, koordinasi masing-masing wilayah perbatasan sangat penting. Sehingga nantinya, hasil masukan dari cabang dapat disimpulkan dan bisa jadi bahan rekomendasi bagi IDI pusat. “Meski sejatinya sarasehan ini sifatnya nonformal,” jelas dr Zainal.

Dikatakan Zainal, sejauh ini tidak ada permasalahan berarti di tubuh IDI, baik itu secara organisasi maupun individu. Namun, yang namanya organisasi pasti berkembang. Misalnya dulu tidak ada dokter asing, sekarang ada. Pun soal bagaimana menindaklanjuti dokter yang diduga melanggar kode etik, penyelesaiannya harus seragam antara Bogor dan kota lainnya.

“Juga, bagaimana tetap meningkatkan profesi kedokteran melalui kegiatan ilmiahnya. Apakah nanti gabungan, atau teknik lainnya seperti apa,” bebernya.
Terkait dokter asing, hingga kini memang belum ada di Kota Bogor. Namun, seiring dengan diterapkannya masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), sehingga tidak menutup kemungkinan adanya serbuan dokter asing ke Kota Hujan. “Makanya ada masukan-masukan, apa saja syarat-syarat dokter asing bisa bekerja di Indonesia. Tidak sembarangan, tapi tetap ada syaratnya. Sama saja halnya dengan kita bekerja di luar negeri, kan ada syaratnya,” beber dia.

Salah satunya, dokter asing yang ingin bekerja di Indonesia, harus menguasai bahasa Indonesia agar bisa berkomunikasi dengan baik dengan pasien. Lalu, harus memiliki keahlian lebih dengan dokter di Indonesia, bukan yang sama. “Kalau yang sama kan enggak perlu ada dokter asing. Ada keahlian yang lebih, kita bisa mengadopsi keahliannya itu. Intinya mengantisipasi,” ungkapnya.

Harapannya, kata dr Zainal, hasil dari sarasehan ini paling tidak bisa memfasilitasi pelayanan yang lebih baik lagi dan jangan takut akan gempuran dokter asing. “Basic-nya kita tidak menutup diri, tapi kita menyiapkan diri supaya kita bisa bersaing dengan dokter asing dalam hal kualitas,” imbuhnya.(wil/c)

Komentar Anda