Beranda Berita Utama

Merasakan Sensasi Berlatih Lari di Rumah Para Jagoan Maraton Dunia di Kenya (1)

BERBAGI
SEMANGAT: Wartawan Jawa Pos Tomy C. Gutomo dan Stefan Zak bersama anak-anak Kenya berlari di Fluorspar Hill.
SEMANGAT: Wartawan Jawa Pos Tomy C. Gutomo dan Stefan Zak bersama anak-anak Kenya berlari di Fluorspar Hill.

Rahasia kehebatan Kenya di race maraton dunia ada di Iten, kota kecil di dataran tinggi. Di sanalah wartawan Jawa Pos TOMY C. GUTOMO selama dua pekan sejak 24 Juli, turut merasakan gemblengan pelatih kelas wahid.

 

BAYANGAN akan panasnya Afrika hilang seketika saat saya mendarat di Bandara Eldoret, Kenya (24/7). Bzegitu saya turun dari pesawat pukul 19.45 waktu setempat, hawa dingin sudah menyergap.

Lebih dingin dari Nairobi, ibu kota Kenya. Aplikasi cuaca di telepon seluler saya menunjukkan suhu 14 derajat celsius.

Begitu keluar dari tempat pengambilan bagasi, Timo Limo, head coach di High Altitude Training Centre (HATC), kamp tempat saya akan berlatih, sudah berdiri menunggu. Dia membawa kertas bertulisan nama saya. ”Welcome to Eldoret,” kata Timo sambil menyalami saya.

Kami bergegas ke mobil dan langsung menuju Iten, kota di dataran tinggi di Distrik Elgeyo-Marakwet. ”Jaraknya 40 km dari sini. Paling lama 45 menit,” kata Timo yang duduk di kursi pengemudi.

Pemilik nama lengkap Timothy Kipkorir Limo itu merupakan pelari profesional jarak menengah yang cukup terkenal di Kenya. Sepanjang perjalalanan, dia banyak cerita tentang suasana kamp yang akan saya tempati.

Kamp tersebut milik Lornah Kiplagat, mantan pelari perempuan Kenya yang beberapa kali meraih podium world championship. Dia juga memproduksi sportswear dengan merek Lornah.

Kami tiba di Iten pukul 20.30. Willy Songok, manajer HATC, langsung menyambut begitu saya turun dari mobil. Saya kembali cek suhu udara. Tertulis 12 derajat celsius. Hari itu saya kehilangan sesi perkenalan dengan pelatih dan peserta kamp yang lain yang berakhir pukul 19.00.

Sambil makan malam pasta dan daging, Songok menjelaskan program yang akan saya jalani selama dua pekan di kamp. ”Setelah makan, silakan istirahat. Besok pagi kita mulai latihan pukul 06.10,” kata Songok.

Di Kenya, matahari terbit pukul 06.30. Pukul 06.10 langit masih gelap gulita. Dan, tentu saja dinginnya bukan main.

Saya sengaja memilih jadwal kamp pada Juli–Agustus untuk menghindari panasnya Afrika. Namun, tidak membayangkan sedingin ini. Selain itu, pada Juli–Agustus, banyak pelari Kenya yang pulang kampung dan berlatih di Iten.

Pada hari kedua di Iten, saya sudah ketemu Wilson Kipsang Kiprotich, mantan pemilik rekor dunia lari maraton (42,195 km) dengan catatan waktu 2 jam 3 menit 13 detik. Sekitar sepekan kemudian (1/8), saya bertemu Abel Kirui, juara Berlin Marathon 2009 dan Daegu (Korsel) Marathon 2011 serta peraih perak maraton Olimpiade London 2012. Dan, Jumat (4/8) saya berjumpa pemilik HATC, Lornah Kiplagat.

Wilson punya rumah dan hotel di Iten. Adapun Abel tinggal di Global Sports Camp. Di kamp tersebut juga ada Eliud Kipchoge, peraih emas maraton Olimpiade 2016.

Ada lebih dari seratus kamp lari di Iten. Dan, pada Juli–Agustus, semua kamp tersebut penuh. Sebab, saat ini tidak banyak race besar. Waktu itulah yang dipakai para pelari Kenya untuk berlatih di Iten. Setiap kamp dihuni 7–10 pelari.

Menurut Songok, Iten merupakan tempat ideal untuk meng-upgrade kemampuan lari. Kondisi alamnya yang penuh tanjakan dan turunan sangat memadai bagi pelari untuk melatih ketahanan dan kecepatan.

Ketinggian Iten 2.400 meter di atas permukaan laut. ”Kalau sudah terbiasa berlatih di sini, akan sangat mudah menaklukkan race maraton (di mana saja) yang biasanya cenderung flat,” kata Songok.

Kamp yang saya tempati, HATC, merupakan kamp khusus bagi orang asing yang ingin merasakan atmosfer lari di Kenya. Luas kamp HATC sekitar 1 hektare. Ada 20 kamar di sini.

Kamarnya sangat sederhana. Yang saya tempati berukuran 2,5 x 5 meter. Separonya untuk kamar mandi. Fasilitas di kamar berupa tempat tidur single bed, lemari kecil, meja kecil, shower air hangat, WC, dan wastafel. Kalau ingin menonton televisi atau menggunakan wifi, tersedia di lounge. Fasilitas lainnya, kolam renang, fitness center, dan laundry.

Satu lagi, Lornah juga membangun lintasan atletik berstandar internasional di Iten yang diberi nama Lornah Kiplagat Sport Academy. Lintasan itu sangat privat. Untuk menggunakannya, pengunjung harus menyewa. Tapi, penghuni HATC bebas berlatih di lintasan tersebut.

Untuk ukuran kamp lari di Kenya, HATC sangat mewah. Saya mengunjungi beberapa kamp pelari-pelari lokal, kondisinya sangat mengenaskan. Beberapa tampak seperti rumah petak yang kondisinya terkesan kumuh. Bangunan-bangunan itu milik warga setempat yang disewakan kepada pelari-pelari dan dijadikan kamp.

Kali ini ada 21 peserta di kamp HATC. Mereka berasal dari berbagai negara. Yakni, Inggris, Amerika Serikat, Meksiko, Afrika Selatan, Turki, Finlandia, Jerman, Irlandia, Austria, Hongkong, dan saya dari Indonesia.

Rata-rata peserta kamp telah menaklukkan race maraton (42,195 km). Dan, sebagian telah menuntaskan World Marathon Majors. Yaitu, enam race maraton paling bergengsi (Berlin Marathon, Tokyo Marathon, Chicago Marathon, London Marathon, Boston Marathon, dan New York City Marathon).
Tarja Virolainen, camper dari Finlandia, merupakan salah seorang yang sudah mengkhatamkan World Marathon Majors. Dia bahkan sudah lupa berapa kali finis maraton.
”Saya mendapatkan best times di London. Dua jam 50 menit. Saya ingin memperbaiki lagi kemampuan lari saya,” sambungnya.

Lain lagi dengan Wong Ka Ming, peserta dari Hongkong. Pria yang sehari-hari menjadi pelatih lari di berbagai perusahaan itu sudah 12 kali menamatkan race maraton. Enam di antaranya World Marathon Majors. ”Saya berlatih di sini untuk saya terapkan di Hongkong,” kata Ming.

Hari pertama latihan, sifatnya hanya orientasi. Pukul 06.00 kami semua sudah siap di halaman kamp. Songok dan Timo Limo juga sudah menunggu. Empat pacer yang merupakan pelari lokal di Iten juga siap memandu kami pagi itu. ”Pagi ini kita hanya berlari 5 km di jalan raya,” kata Songok.
Kami pun menyusuri jalanan Iten yang masih senyap pagi itu. Beberapa peserta berhenti untuk berfoto di gapura Iten yang sangat legendaris. Gapura itu bertulisan Welcome to Iten Home of Champions. Selamat Datang di Iten Rumah Para Juara.

Di sebaliknya bertulisan Thanks for Visiting Home of Champions. Ada dua gapura dengan tulisan itu. Satu berada di arah Eldoret dan satunya dari arah Karbanet. Sayang, kini terpasang spanduk kampanye pemilu di gapura tersebut.

Jalanan Iten yang naik turun cukup membuat para peserta terkejut. Di saat yang sama, sejumlah pelari Kenya dengan santainya mendahului kami. ”Ini jalur untuk easy run. Selanjutnya kita akan banyak berlari di jalan pedesaan, hutan, dan gunung. Jalurnya tanah,” kata Timo.

Setelah semua menuntaskan lari 5 km, Timo memimpin untuk melakukan strides 6 x 75 meter. Itu lari sprint sepanjang 75 meter dan diulangi selama enam kali. Setelah itu, barulah kami melakukan stretching.
Setelah sarapan, kami diajak ke Tambach Teachers College. Di sana terdapat lapangan tanah liat yang digunakan para elite runners Kenya untuk berlatih interval run.

Keberuntungan pun berpihak kepada kami. Saat kami berjalan mengelilingi lintasan, tiba-tiba muncul Wilson Kipsang dan timnya yang akan berlatih di lapangan itu.

Siangnya, setelah makan, kami diajak berjalan kaki ke pusat kota. ”Silakan dihafalkan di mana minimarket, toko buah, bank, dan sebagainya,” kata Songok.

Di kamp, kami juga diwajibkan latihan sore. Ada empat pilihan, berlari, bersepeda, gym, atau berenang. Rata-rata memilih berlari, berenang, atau gym. Jarang yang memilih bersepeda karena memang hanya ada satu sepeda yang tersedia. Saya lebih sering memilih berenang atau gym.

Agenda hari pertama diakhiri dengan diskusi bersama Timo dan Godfrey Kiprotich tentang metode latihan pelari-pelari Kenya. Godfrey juga salah seorang pelatih di HATC. Dia adalah mantan pelari jarak jauh Kenya.(*/c10/ttg)

Komentar Anda