Beranda Ekonomi

Jual Beli Online Potong Rantai Distribusi

BERBAGI
Ilustrasi berbelanja online

JAKARTA–Basis data konvensional saat ini gagal membaca perubahan aktivitas ekonomi. Data-data makro belum bisa menangkap gejala berkembangnya industri berbasis online seperti e-commerce, financial technology (fintech), dan layanan transportasi online.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengakui, statistik yang meng-cover aktivitas ekonomi nonkonvensional memang belum disediakan pemerintah. Dia pun akan berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mencari solusinya. Sebab, kegiatan ekonomi secara online itu cukup memotong rantai distribusi.

”Ada beberapa step atau lapangan usaha yang dulunya bisa memberikan nilai tambah, itu akan hilang karena distribusinya diperpendek. Misalnya, yang terjadi pada bisnis perdagangan (secara online, red). Kami akan coba berkoordinasi dengan BPS soal ini,” ujarnya seusai seminar bertema Mendorong Industri Hulu pada Perekonomian Indonesia di gedung BI.

Hal tersebut, lanjut dia, juga memengaruhi data serapan tenaga kerja dan pendapatan. Hal yang terjadi kemudian, bisa saja data produk domestik bruto (PDB) turun di tahap awal perubahan aktivitas ekonomi itu. Namun, ketika nanti semua data sudah ter-cover, PDB akan tampak tumbuh dalam beberapa waktu ke depan.

”Yang penting adalah meng-include transaksi digital yang sekarang ini secara statistik belum kita masukkan, baik dari sisi output maupun harga (untuk mengukur inflasi, red). Ini bisa menjadi semacam informasi tambahan mengenai ekonomi kita seperti apa. Magnitude-nya bisa jadi besar dan itu harus tertangkap di makroekonomi kita,” urai Dody. Dari beberapa pelaku usaha yang berbasis digital, lanjut dia, transaksi ekonomi digital mencapai kisaran USD 4 miliar sampai USD 7 miliar.

Namun, diakui Dody, isu daya beli bukan hanya terkait disrupsi. Dia mengungkapkan, kelompok menengah ke bawah mengalami penurunan pendapatan karena pencabutan subsidi listrik. Itu memengaruhi daya beli masyarakat.

Kemudian, korporasi menahan ekspansinya sehingga mengurangi serapan tenaga kerja di sektor formal. Pendapatan masyarakat pun ikut terpengaruh. Jika menilik data, pertumbuhan industri manufaktur besar dan sedang pada kuartal II lalu memang hanya tumbuh 4 persen secara year-on-year (yoy). Itu melambat dari capaian periode yang sama tahun lalu yang 4,46 persen (yoy).

Kamudian, kelas menengah ke atas lebih memilih menempatkan dananya di bank. Hal tersebut terlihat dari simpanan dengan saldo di atas Rp2 miliar yang nominalnya meningkat 2,56 persen secara month-on-month (mom) pada Mei lalu. Pada periode yang sama 2016, pertumbuhannya masih 0,91 persen (mom). Dody menyimpulkan, kemampuan belanja masyarakat berkurang sehingga ada konsumsi yang tertahan.

CEO PT Global Digital Niaga (blibli.com) Kusumo Martanto mengatakan, pada dasarnya perusahaan e-commerce hanya memberikan solusi untuk kebutuhan konsumen. Jika pelaku usaha ritel konvensional mengaku tergeser dengan keberadaan e-commerce, dia membantahnya.

”E-commerce hanya menawarkan kemudahan kepada konsumen,” katanya. Soal transaksi, pertumbuhan memang terjadi, terutama ketika momen Lebaran. Kenaikannya hampir dua kali lipat bila dibandingkan dengan capaian pada saat Lebaran tahun lalu.(rin/c10/sof)

Komentar Anda