Beranda Berita Utama

Madinah Al-Munawarah yang Semakin Indah dan Penuh Berkah (1)

BERBAGI

PARA jamaah haji Musim Haji 1438 H/2017 M yang ter­masuk gelombang per­tama, secara ber­tahap telah memasuki Kota Madinah Al-Muna­warah. Secara umum, mereka ditem­patkan oleh Pimpinan Haji Dae­rah Kerja Ma­dinah Kementeriaan Aga­ma RI di pe­mon­dokan dan hotel berbintang yang sa­ngat strategis, begitu de­kat dengan Masjid Nabawi, dan sangat nyaman untuk ditempati.

Begitu pula pelayanan penyiapan makanan dalam bentuk sarapan, makan siang, dan makan malam semakin meningkat kualitasnya. Sehingga diharapkan para jamaah bisa melaksanakan ibadah secara khusyuk karena didukung oleh nikmat Allah dalam bentuk fisik dan jasmani yang sehat. Semua itu dilakukan dengan dukungan Khadimul Haramain Asy-Syarifain yang menata Kota Madinah ini semakin nyaman, indah dan aman.

Khususnya menyambut tamu Allah, baik yang akan berhaji atau berumrah. Secara khusus, Pemerintah Arab Saudi telah menunjuk secara profesional Al-Muassasah aal-Ahliyah Lil Adilla’ untuk Khidmatul Hujjaj Indonesia.

Madinah Al-Munawarah adalah kota suci kedua bagi umat Islam, setelah kota suci Makkah Al-Mukarramah. Di sanalah terletak Masjid An-Nabawi yang didirikan pada tahun 622 M atau tahun pertama Hijriah, setelah Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah. Dulu kota ini dikenal dengan nama Yatsrib. Setelah Rasulullah SAW hijrah ke kota ini, Yatsrib dikenal dengan nama “Madinatur Rasul”. Kemudian, kota ini dikenal dengan kota Al-Madinah Al-Munawarah.

Madinah sebagai kota yang penuh cahaya keindahan, kebahagiaan dan keberkahan, karena di dalamnya terdapat makam baginda Rasulullah Muhammad SAW yang didampingi oleh dua makam sahabat tercintanya, yaitu Sayyidina Abu Bakar Shiddieq dan Sayyidina Umar bin Khattab, orang yang paling mulia, komandan dari seluruh nabi dan rasul, sosok yang akan memberikan syafa’atul uzhma pada hari kiamat.

Sosok hamba Allah yang sangat dicintai oleh Allah SWT dan oleh para malaikat Allah, baik yang berada di langit maupun di bumi, dan juga sosok yang sangat dicintai oleh setiap hamba Allah yang betul-betul beriman, di mana saja dan kapan saja berada. Sehingga energi setruman yang sangat luar biasa dalam bentuk energi cinta Rasulullah SAW (Mahabbah Ila Rasulillah), itu menghentak kepada kalbu umatnya.

Khususnya bagi para jamaah haji yang sedang berziarah, melintasi makam Rasulullah yang terucap dengan tulus dari lisannya beberapa kalimat indah, dalam suasana syahdu, khusyuk, bercampur antara bahagia, terharu, dan sedih, karena kesempatan yang sudah lama dinanti, yaitu: Assalamu ‘alaika ya Rasulallah wa Rahmatullahi wa Barakatuh, Assalamu ‘alaikaa ya Nabiyyallah, Assalamu ‘alaiika ya Shafwatallah, Assalamu ‘alaika ya Habiballah (Salam dan sejahtera atasmu ya Rasulullah, kasih sayang Allah dan keberkahan-Nya, salam dan sejahtera atasmu wahai pilihan Allah, salam dan sejahtera wahai kekasih Allah.

Mereka datang dari berbagai belahan penjuru dunia, yang sudah mencapai ratusan ribu orang dan untuk subuh Kamis (3/8/2017) sudah hampir mencapai jutaan orang. Walaupun dalam suasana berdesakan tetapi tetap tertib dan teratur. Dengan dilandasi oleh semangat ukhuwah islamiyah, umat Rasullah menyatu.

Mereka terilhami dengan beberapa hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Baihaqi yang bersumber dari Sahabat Rasulullah SAW, Abdullah bin Umar yang menyatakan: Barang siapa yang berziarah kepada Aku di kota Madinah dengan berharap penuh untuk mendapatkan syafaah aku, maka aku akan memberikan syafaah (pertolongan) kepadanya pada hari kiamat.

Selain itu, ada hadis Nabi yang lain, yang juga diriwayatkan oleh Imam Abu Daud yang juga bersumber dari Sahabat Abdullah bin Umar: Barang siapa yang berziarah kepada aku setelah wafatku, seakan-akan dia menziarahi aku ketika aku masih hidup.

Di samping itu, Madinah menjadi kota suci karena di kota inilah selama 13 tahun Nabi pertama kali membangun peradaban yang dilandasi oleh akidah, membangun hukum sebagai pranata, baik terkait dengan hubungan vertikal langsung kepada Allah (hablum minallah), maupun hubungan horizontal (hablum minannas).

Sehingga, sosok seorang muslim, umat Rasulullah, akidah dan tauhidnya kepada Allah menjadi kuat, yang diaktualisasi dengan aturan hukum yang sangat merespons kepada ibadah kepada Allah, serta terimplementasi dalam bentuk ibadah sosial.

Seluruh jamaah haji bisa berziarah dengan bersalawat kepada baginda Rasulullah, juga menyampaikan salam kepada Rasulullah dari saudaranya atau teman sejawatnya yang menitip salam karena belum berkesempatan datang, sambil berdoa agar anak, cucu keturunannya bisa langsung berziarah kepada baginda Rasulullah SAW di suatu saat.(Bersambung)

Komentar Anda