Beranda Ekonomi

Progam Ipemi Tingkatkan Perekonomian Masyarakat

BERBAGI

KOMPAK: Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia usai memamerkan hasil karyanya.

UNTUK membantu meningkatkan perekonomian masyarakat, Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (Ipemi) meluncurkan Gerakan Nasional Muslimah Membangun. Upaya tersebut dilakukan untuk memangkas ketimpangan ekonomi di dalam negeri.

Adapun program tersebut, di antaranya, pendirian warung muslimah dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat menengah ke bawah, pendirian salon muslimah, penerbitan majalah Ibadah, serta pelatihan bisnis dan manajemen. Setelah program tersebut diluncurkan beberapa waktu lalu, respons dari masyarakat sangat positif.

”Program Nasional Ipemi berjalan dengan baik. Warung Muslimah sudah banyak berdiri dan akan terus dikembangkan, dengan dukungan IT,” ujar Sekjen Ipemi Nurwahidah Saleh.

”Termasuk layanan Laku Pandai. Jadi, selain warung muslimah melayani penjualan bahan pangan pokok, juga dapat menjadi Laku Pandai untuk transaksi perbankan sesuai standar Laku Pandai,” imbuhnya.

Lebih lanjut Nurwahidah mengatakan, untuk salon muslimah juga sedang berjalan. ”Yakni, melalui pelatihan-pelatihan kecantikan. Yang nantinya akan dikembangkan menjadi usaha salon oleh para anggota Ipemi,” ujarnya.

Adapun untuk majalah Ibadah, kata Nurwahidah, saat ini telah berkembang pesat dan menjadi bacaan wajib anggota dan pengurus Ipemi.

”Selain mengulas ekonomi syariah, gaya hidup islami dan komunitas, majalah Ibadah juga mengulas aktivitas Ipemi di seluruh Indonesia, hingga mancanegara seperti Malaysia dan Thailand,” jelasnya. ”Sedangkan pelatihan bisnis dan manajemen sudah banyak dijalankan di berbagai pengurus wilayah provinsi dan pengurus daerah kota dan kabupaten,” ujarnya.

Untuk diketahui, beberapa waktu lalu Ipemi meluncurkan Gerakan Nasional Muslimah Membangun. Peluncuran program tersebut dilakukan langsung oleh Ketua Umum Ipemi Inggrid Kansil. Serta dihadiri Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri.

Dalam acara peluncuran tersebut, Ketua Umum Ipemi Inggrid Kansil mengatakan, program Muslimah Membangun diluncurkan untuk mengatasi ketimpangan sosial. Diharapkan, perempuan muslim bisa berperan dalam pemerataan ekonomi bangsa.

Inggrid mengungkapkan, perempuan masih dieksploitasi hampir di setiap daerah. Banyak wanita yang bekerja di pabrik, namun gajinya tidak sesuai upah minimum provinsi (UMP). Atau bahkan menjadi tulang punggung keluarga, lantaran suaminya tidak bekerja.

”Jadi, banyak ketimpangan, KDRT (kekerasan dam rumah tangga). Kita coba memberi solusi untuk berwirausaha. Program warung dan salon muslimah yang kita kerja samakan dengan skateholders sembako dengan modal paviliun saja, di rumah,” ujarnya di acara peluncuran program tersebut beberapa waktu lalu.

Inggrid mengatakan, Muslimah Membangun memiliki peran penting dan strategis. Sebab, program ini membangun kembali komitmen muslimah Indonesia, bukan hanya di bidang akhlak, politik, dan sosial, melainkan berperan nyata membangun perekonomian nasional.

Menurutnya, apabila seluruh program kerja Ipemi dapat dilaksanakan dengan baik, maka dapat dipastikan akan meningkatkan perkembangan usaha, dan pertumbuhan ekonomi nasional. ”Dan tentunya ini bukti kontribusi Ipemi terhadap rakyat dan bangsa Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengatakan, Muslimah Membangun bertujuan meningkatkan semangat dan komitmen untuk terus berperan dan berkontribusi dalam pembangunan nasional. Hanif juga mengapresiasi peran dan kontribusi Ipemi dalam mendorong ekonomi umat muslimah di Indonesia terus berkembang. Di sisi lain, Ipemi juga meningkatkan gairah beragama di kalangan umat muslimah. ”Saya apresiasi peran dan kontribusi Ipemi yang bekerja di dua level itu. Satu sisi mendorong agar ekonomi umat berkembang, tapi gairah beragama terus bertumbuh di kalangan umat Islam,” katanya.

Hanif menyebut jumlah wirausaha dari kalangan perempuan di Indonesia meningkat 1,2 juta orang dalam dua tahun terakhir. Pada 2015, terdapat sebanyak 12,7 juta pengusaha perempuan. Jumlahnya meningkat menjadi 14,3 juta orang pada awal tahun ini. Hanif berharap, peningkatan jumlah tersebut juga diikuti dengan meningkatnya daya saing. Menurutnya, daya saing dapat diukur dari kualitas produk yang dihasilkan, harga yang kompetitif serta kecepatan pengiriman.(dai)

Komentar Anda