Beranda Female

Fenomena Bullying di Media Sosial

BERBAGI
ANTISIPASI : Untuk menghindarkan buah hati dari bullying, sebaiknya orangtua memberikan pondasi kuat untuk mereka

Ibarat fenomena gunung es, kasus bullying belakangan kembali marak. Makin ke sini, makin terkuak banyak kasus, karena terekspos media. Korban bully di masa kanak-kanak bisa berpengaruh pada saat beranjak remaja dan dewasa, sehingga menjadikan ia menjadi pribadi yang tidak percaya diri, minder, takut untuk bersosialisasi, sulit mengembangkan hubungan yang harmonis dengan orang lain, hingga ia dapat menarik diri dari pergaulan.

 

Yang terbaru, kasus bullying juga banyak yang viral di media sosial. Entah untuk menonjolkan kemampuan atau sang pelaku sengaja menyebarkannya melalui medsos. Menurut Psikolog di RS Medika Dramaga, Anisa Rahmawati, bully adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalah­gunakan atau mengin­timidasi orang lain.

”Pelaku bully jika tidak cepat dicegah dan diatasi, akan menjadi kebiasaan buruk, dan akan merusak kondisi psikis dan sosial si pembully sendiri,” ujarnya.

Menurut Annisa, kehadiran bully ini memang dari dulu sudah ada, namun karena dulu belum ada media sosial dan anak-anak tidak mengekpose jadi bully tidak menjadi trend seperti sekarang. Sekarang, lanjutnya, sudah semakin banyak kasus yang terkuak karena pengaruh dari media sosial dan orang tua yang lebih perhatian terhadap anak dan guru yang sudah mendapatkan pendidikan lebih mengenai bully.

Bully, kata Annisa, bisa terjadi karena lingkungan, anak harus beradaptasi dengan baik di lingkungannya dan anak tidak boleh merasakan tidak percaya diri, karena ketika anak mulai merasa tidak percaya diri dan memendamnya, anak tersebut sangat rentan menjadi sasaran pelaku bully.

”Rasa minder karena perbedaan, kurang bisa diterima lingkungan, mempunyai kelemahan atau bahkan ketika seorang anak mempunyai kelebihan karena adanya faktor kecemburuan sosial, semua hal tersebut bisa memicu terjadi bully,” jelasnya.

Bully, lanjut Annisa, dapat tumbuh melalui pola asuh karena pola asuh dapat membentuk karakter anak. Misalkan, pelaku bully lebih mendominasi di lingkungan karena di dalam keluarga pelaku bully terlalu diperhatikan dan dipenuhi segala kebutuhannya. ”Bisa jadi, pelaku bully berasal dari keluarga kurang bahagia yang sering melihat pertengkaran orang tua,” jelas Anisa.

Jenis bully ada tiga, yaitu bully fisik, verbal dan psikis atau psikologis. Bully fisik merupakan bentuk paling tampak dan dapat teridentifikasi, bentuk perilaku bully fisik yang sering dilakukan pelaku adalah memukul, mencekik, menyikut, menendang, dan menghancurkan barang korban.

Bully verbal merupakan bentuk yang paling umum dan mudah dilakukan pelaku. Bentuknya, tidak melukai korban secara fisik namun sangat menyinggung perasaan korban. Wujud pelaku bully verbal dapat berupa julukan nama, celaan, penghinaan, tuduhan yang tidak benar dan gosip yang keji dan keliru.

Terakhir, kata Annisa, bully psikologis merupakan bentuk perilaku bully yang paling sulit dideteksi dari luar, yang dominan dalam bentuk bully ini adalah adanya pelemahan harga diri korban secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan dan penghindaran.

”Wujud perilaku bully psikologis dapat berupa cibiran, tawa mengejek dan bahasa tubuh yang kasar. Bully dapat terjadi karena pelaku bully merasa puas kalau sudah membully orang lain, rasa tidak suka dengan korban dan di lingkungan korban tidak disukai sehingga dijadikan bahan gurauan,” terangnya. (cr6/c)

Komentar Anda