Beranda Metropolis

Saling Lapor Polisi, Hari Ini PMII Kerahkan Massa ke Balaikota

BERBAGI
BIKIN LAPORAN: PMII Kota Bogor melaporkan dua kasus sekaligus kepada polisi terkait pengeroyokan yang diduga dilakukan Satpol PP Kota Bogor dan pencemaran nama baik di media sosial.

BOGOR–Perseteruan antara Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Bogor dengan Satpol PP Kota Bogor semakin memanas. Setelah dituduh melecehkan anggota Srikandi Satpol PP saat aksi unjuk rasa di depan Balaikota Senin (31/7), hari ini (2/8) PMII Kota Bogor berencana untuk demo besar-besaran di Balaikota Bogor.

[ihc-hide-content ihc_mb_type=”block” ihc_mb_who=”unreg” ihc_mb_template=”3″ ]

Ketua PMII Kota Bogor Fahrizal mengatakan, akan ada sekitar 200 mahasiswa yang terlibat dalam aksi hari ini. Tuntutannya masih sama, yakni meminta Kepala Satpol PP Kota Bogor Herry Karnadi untuk turun dari jabatannya, karena dianggap tidak becus menegakkan pelanggaran peraturan daerah (perda) di Kota Bogor.

“Kita ingin Kasatpol PP dicopot, karena kinerjanya sangat buruk! Terbukti dengan banyaknya pelanggaran perda yang belum diselesaikan,” jelasnya kepada Radar Bogor kemarin (1/8).

Terkait tudingan pelecehan terhadap srikandi Satpol PP Kota Bogor, Ketua Ikatan Alumni (IKA) PMII Kota Bogor Ahmad Aswandi turut buka suara. Pasalnya, meski Satpol PP Kota Bogor telah melaporkan anggota PMII kepada Polresta Bogor Kota, tuduhan tersebut belum terbukti benar. “Ini sangat merugikan kami dengan menuduh anggota PMII melakukan pelecehan kepada anggota Satpol PP,” ujarnya.

Malahan, tindakan represif Satpol PP saat mengamankan aksi PMII di depan Balaikota Senin (31/7), dianggap pria yang akrab disapa Kiwong itu, diwarnai dengan kekerasan. Sehingga menyebabkan dua di antara anggota PMII Kota Bogor mengalami luka-luka.

Kiwong mengatakan bahwa satu di antara korban kekerasan tersebut adalah wanita. Ia mengalami luka memar di bagian betis, diduga karena ditendang salah satu anggota Satpol PP. “Kami sudah laporkan anggota Satpol PP yang mengeroyok anggota Polresta Bogor Kota,” terangnya.

Tak hanya melaporkan soal kekerasan, Satpol PP Kota Bogor juga dilaporkan ke Polresta Bogor Kota atas tuduhan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Ia menganggap, salah satu posting-an anggota Satpol PP di media sosial telah mencemarkan nama PMII Kota Bogor. “Kami juga menyayangkan salah satu Kabid Satpol PP yang menuduh kami dan mempostingnya di media sosial dengan kata-kata tidak layak. Padahal, dia salah satu aparatur pemerintah,” paparnya.

Kiwong juga sempat heran dengan standar operasional prosedur (SOP) Satpol PP Kota Bogor yang menempatkan srikandi Satpol PP di bagian paling depan. Padahal, saat itu kondisi demonstrasi sedang ricuh-ricuhnya. “Saya juga menanyakan SOP pengamanan aksi yang dilakukan Satpol PP itu seperti apa, karena ketika kejadian Satpol PP wanita dihadapkan di depan,” tandasnya.

Satpol PP Laporkan Pelecehan
– Salah satu Srikandi Satpol merasa bagian dadanya dipegang oleh oknum anggota PMII Kota Bogor ketika melakukan aksi demo.
– Satpol PP pun membuat laporan polisi dengan tudingan pelecehan

PMII Laporkan Pengeroyokan
– Dua anggota PMII Kota Bogor mengalami luka-luka akibat ulah Satpol PP.
– Satu di antara korban kekerasan merupakan wanita yang mengalami luka memar di bagian betis.
– PMII kemudian membuat laporan polisi terkait dugaan pengeroyokan oleh Satpol PP.
– PMII juga melaporkan Satpol PP atas tuduhan pelanggaran UU ITE.
– Mereka menganggap salah satu postingan anggota Satpol PP Kota Bogor di media sosial telah mencemarkan nama PMII Kota Bogor.

Terpisah, Kepala Satpol PP Kota Bogor Herry Karnadi mengatakan, laporan Satpol PP kepada Polresta Bogor Kota merupakan bentuk perlindungan terhadap anggotanya. Dirinya khawatir para srikandi Satpol PP akan terpengaruh psikologisnya jika tidak dilindungi secara hukum. “Saya perlu melaporkan itu ke Polri, karena bentuk perlindungan kami juga, perlindungan satuan kepada anggota,” ujarnya ketika dikonfirmasi.

Sengaja pihaknya menem­patkan jajaran srikandi Satpol PP Kota Bogor di bagian terdepan saat aksi demo, karena hal tersebut dapat meredam para demonstran agar tidak anarkis. Tapi, rupanya, hal tersebut tidak sesuai perkiraan. “Jadi, kalau ada nego-nego itu kita tempatkan putri di depan supaya bisa mencairkan suasana. Supaya tidak anarkis saja mereka. Polri juga sama, bagian demo di depan perempuan. Supaya mencegah anarkisme,” tandasnya.

Sebelumnya, kejadian tidak mengenakkan harus dialami Srikandi Satpol PP Kota Bogor ketika mengamankan aksi protes puluhan mahasiswa PMII di Balaikota Bogor, Senin (31/7).

Salah satu srikandi merasa bagian dadanya dipegang oleh oknum demonstran ketika aksi saling dorong terjadi antara pendemo dengan Satpol PP. “Kericuhan bisa kami maklumi, karena kami terbiasa terkena lemparan saat demo. Tapi, kami tidak terima ketika satu di antara srikandi merasa disentuh bagian dadanya oleh salah satu anggota PMII,” ujar Kabid Pengendalian dan Operasional Satpol PP Kota Bogor, Agustiansyah.(rp1/c)

[/ihc-hide-content]

 

 

Komentar Anda

Baca Juga