Beranda Ekonomi

Harga Garam Tak Pengaruhi Inflasi

BERBAGI
ASIN : Seorang pedagang garam menunjukan sebungkus garam bata yang harganya melonjak (Sofyan/Radar Bogor)

JAKARTA–Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juli 2017 sebesar 0,22 persen atau kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 129,72 poin menjadi 130 poin. ”Inflasi tahun kalender 2017 adalah 0,22 persen sementara year on year, Juni 2016 ke Juli 2017 3,88 persen. Masih normal,” kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto.

Dia menjelaskan, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Dari 82 pemantauan BPS, lanjut dia, 59 kota mengalami inflasi dan 23 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Bau-Bau sebesar 2,44 persen dengan IHK sebesar 134,83 poin. Sementara terendah terjadi di Meulaboh sebesar 0,01 persen dengan IHK 127,99 poin.

”Deflasi tertinggi terjadi di Merauke sebesar 1,50 persen dengan IHK 133,53 poin dan deflasi terendah terjadi di Metro dan Probolinggo masing-masing sebesar 0,07 persen. Adapun IHK kedua daerah itu masing-masing sebesar 136,49 poin dan 126,10 poin,” pungkasnya.

Kecuk juga menilai inflasi yang terjadi pada Juli terjadi karena beberapa hal. Misalnya, kenaikan harga pada sejumlah komoditas maupun kelompok pengeluaran. Pendidikan, rekreasi dan olahraga menjadi penyumbang angka inflasi Juli 2017 sebesar 0,62 persen. ”Pada Juli, tahun ajaran baru mulai, dan liburan sudah habis. Itu inflasinya 0,62 persen dan dua faktor itu andilnya 0,05 persen,” bebernya.

Suhariyanto menjelaskan, penyebab tingginya inflasi di kelompok tersebut diakibatkan kenaikan harga sejumlah komoditas. ”Untuk uang masuk sekolah SD, uang sekolah SMA, dan satu lagi tarif bimbel. Masing masing sebesar 0,01 persen,” ucapnya.

Selain itu, kelompok yang turut menyumbang inflasi Juli 2017 adalah bahan makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,57 persen. Lalu kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,06 persen. Kelompok sandang sebesar 0,06 persen dan kelompok kesehatan menyumbang 0,15 persen.
Kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan justru mengalami penurunan sebesar 0,08 persen. Sejumlah komoditas seperti beras, jengkol, cabai merah, daging ayam juga mengalami penurunan.

Sementara itu, BPS memastikan kelangkaan garam di sejumlah wilayah Indonesia tidak akan memengaruhi angka inflasi Agustus 2017. Sebab, porsi dari komoditas yang termasuk dalam kelompok bahan makanan ini, cukup kecil dalam kalkulasi inflasi.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Yunita Rusanti mengungkapkan, kontribusi garam terhadap angka inflasi masih di bawah satu persen.

Kondisi ini membuat BPS optimis jika komoditas tersebut tidak akan memberi pengaruh besar. ”Sebetulnya garam bobot dalam perhitungan IHK cukup kecil. Jadi, tidak terlalu berpengaruh ke inflasi. Bobotnya itu 0,000 sekian lah, jadi nggak besar pengaruhnya,” jelasnya.(cr4/jpg)

Komentar Anda