Beranda Berita Utama

Ekstasi Minion Sasar Anak-anak

BERBAGI
EKSPOSE: Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah) bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani menunjukkan barang bukti narkoba jenis ekstasi di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Selasa (1/8).Miftahul hayat jawapos

JAKARTA–Pengungkapan penyelundupan ekstasi sebanyak 1,2 juta butir menuntut Polri pada fakta baru. Pil ekstasi yang berbentuk kartun minion dalam film Despicable Me itu dimungkinkan untuk memperluas pasar narkotika pada anak-anak. Hingga saat ini belum diketahui melalui jalur mana ekstasi ini masuk ke Indonesia. Sebab, sindikat ini merupakan jaringan terputus.

Ekstasi tersebut memang dicetak dengan gambar kartun minion. Dalam salah satu bungkus, ekstasi itu salah satu sisinya berwarna hijau dan sisi lainnya pink. Ekstasi yang lain, kendati berbentuk sama namun warnanya berbeda, dengan warna kuning dan biru bersisihan.

Direktur Tindak Pidana Narkoba (Dirtipid Narkoba) Bareskrim Brigjen Eko Daniyanto menuturkan, memang 1,2 juta pil ekstasi ini berbentuk minion. Kendati belum ada indikasi untuk dipasarkan ke anak-anak, tentu perlu diantisipasi. ”Kami akan memberikan masukan ke Badan Narkotika Nasional (BNN) terkait ini,” ujarnya.

Biasanya, narkotika yang didistribusikan ke anak-anak itu berbentuk jelly. Kalau yang ini justru dimiripkan seperti permen atau malah vitamin C. ”Jenis minion semacam ini asalnya dari Belanda, kita mengetahuinya karena Belanda melegalkan narkotika,” terangnya.

Salah seorang penyidik Dittipid IV Bareskrim menyebutkan bahwa ekstasi minion ini merupakan narkotika kelas wahid. Bahkan, bila dipegang secara langsung, tanpa menggunakan sarung tangan akan terasa panas. ”Ini salah satu ciri ekstasi dengan kualitas yang baik,” ujarnya.

Karena kualitasnya itu pula, ekstasi ini bisa dipecah untuk melipatgandakan keuntungan. Setiap butirnya setidaknya bisa dipecah menjadi dua butir ekstasi dengan kualitas standar. ”Tentunya menjadi lebih berbahaya lagi,” ungkapnya.

Eko menambahkan, bandar memahami bahwa Indonesia merupakan pangsa pasar narkotika yang besar dengan jumlah pengguna diprediksi mencapai 5 juta orang. Kondisi tersebut ditambah dengan begitu luasnya wilayah Indonesia. Semakin mengkhawatirkan juga dengan begitu mudahnya merekrut warga Indonesia.

”Orang Tiongkok itu kalau direkrut minta gajinya Rp40 juta. Tapi, Indonesia ini hanya dibayar Rp6 juta dan Rp10 juta sudah mau membawa narkotika. Semacam inilah yang juga menjadi masalah,” ungkapnya.

Dalam penangkapan tersebut juga diketahui, sebenarnya ada rencana tukar narkotika antara bandar. Aseng yang memesan ekstasi menukarnya dengan sabu, untuk sepuluh bungkus ekstasi akan ditukar dengan 2 kg sabu. ”Pertukaran sabu dengan ekstasi ini baru sekali ini ditemukan,” jelasnya.

Saat ini Bareskrim berupaya memastikan bagaimana jalur masuk dari ekstasi. Dia mengatakan, pengendali peredaran yang merupakan narapidana salah satu lapas di Nusakambangan bernama Aseng. Aseng ini yang mengetahui bagaiamana jalur narkotika itu. ”Masalahnya, Aseng ini sedang dalam proses Bon. Rencananya akan diperiksa di Nusakam­bangan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menuturkan, dengan jumlah ekstasi mencapai 1,2 juta pil plus bisa dipecah menjadi dua, maka dengan penggagalan penyelundupan ini, jumlah korban jiwa yang diselamatkan mencapai 2,4 juta jiwa. ”Harga ekstasi ini juga fantastis, bisa mencapai Rp600 miliar,” ujarnya.

Dengan jumlah barang bukti yang begitu besar, maka Polri akan berupaya untuk memusnahkan narkotika tersebut secepatnya. Hal tersebut ditujukan agar tidak disalahgunakan. ”Penjagaan narkotika ini juga diperketat,” ungkapnya.

Rencananya, ekstasi ini akan dimusnahkan bersamaan dengan sabu satu ton. Masih dipilih tempat terbaik antara Ancol dengan Monumen Nasional. ”Yang pasti, saya warning jangan ada yang menyalahgunakan,” tegasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan, pengungkapan 1,2 juta pil ekstasi ini merupakan kerja sama antara Polri dengan Bea Cukai. Tentunya, kerja sama kedua lembaga perlu untuk ditingkatkan. ”Mengingat narkotika ini kejahatan transnasional atau lintas negara, tentu semua lembaga harus bersama,” ujarnya.

Dia mengatakan, harga narkotika yang lebih dari setengah triliun itu tentu membuat mandar memiliki kemampuan lebih. Karenanya, sebagai bentuk dukungan, Kementerian Keuangan akan memprioritaskan pengajuan anggaran dari Polri dan BNN. Khususnya untuk pemberantasan narkotika.

”Tak hanya itu, karena Polri sudah memberi penghargaan anggotanya, maka Kemenkeu juga akan secepatnya memberi penghargaan pada personel Ditjen Bea Cukai yang terlibat pengungkapan narkotika,” ujarnya.

Dalam kasus tersebut terdapat tiga tersangka, yakni Aseng pengendali yang juga narapidana. Liu Kit Tjung alias Acung, M Zulkarnaian, dan Erwin Afianto. Zulkarnain tertembak mati dalam proses penangkapan tersebut karena melakukan perlawanan.(idr)

Komentar Anda