Beranda Berita Utama

Sketsa Baru Diyakini Paling Mirip Pelaku

BERBAGI
SKETSA BARU: Kapolri Jenderal Tito Karnavian menujukkan sketsa wajah terduga pelaku di Istana Negara, Senin (31/7).

JAKARTA–Mabes Polri kemarin (31/7) merilis sketsa wajah terbaru orang yang diduga pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.
Sketsa itu dipublikasikan usai Kapolri Jenderal Tito Karnavian di­panggil Presiden ke kantornya. Sketsa itu didapat dari keterangan saksi kunci yang identitasnya dirahasiakan.

Tito menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi tersebut, ada seseorang tak dikenal berdiri di dekat masjid lima menit sebelum penyerangan, dengan gelagat yang mencurigakan. Diduga, dia adalah pengemudi motor. Dari situlah, penyidik mulai membuat sketsa wajah. Untuk membuat sketsa itu, ujar Tito, pihaknya bekerja sama dengan kepolisian federal Autralia (AFP) menggunakan teknologi mutakhir. ’’Saksi mengatakan sketsa ini masuk kategori baik,’’ terangnya di kantor Presiden.

Tito menjelaskan, sketsa tersebut baru saja diselesaikan dua hari sebelumnya atau pada Sabtu (29/7) lalu. ’’Nanti kami umumkan lagi dengan harapan ada feedback dari masyarakat kepada kami,’’ lanjut lulusan terbaik Akpol 1987 itu. Di saat bersamaan, Polri menerjunkan tim untuk mencari keberadaan orang tersebut.

Dari sketsa tersebut diperoleh ciri-ciri, antara lain wajah yang bulat, rambut ikal pendek, dengan tinggi badan diperkirakan 167 cm dan kulit sawo matang gelap. Tito menjelaskan, pihaknya juga sudah menyampaikan sketsa itu ke KPK dan diharapkan KPK ikut bergabung dalam tim pencarian.

Tito menuturkan, tidak banyak arahan yang disampaikan Presiden saat memanggil dia. ’’Beliau memerintahkan agar dituntaskan sesegera mungkin,’’ ucap mantan Kapolda Metro Jaya itu. Saat dipanggil itulah, Tito melaporkan sejumlah hal.

Dimulai dari pemanggilan saksi hingga berjumlah 59 orang. Juga mengamankan lima orang, termasuk seorang satpam bernama M Lestaluhu yang sempat dicurigai. Penyidik juga menyita sekitar 50 cctv pada radius 1 km dari TKP. Juga mendatangi sekitar 100 toko bahan kimia yang menjual H2SO4 untuk mencari potensi pelaku membeli bahan kimia dari toko-toko tersebut.

Sebagian besar saksi mengaku melihat kejadian, namun tidak sampai melihat wajah pelaku. Hanya dari satu saksi polisi kemudian membuat sketsa wajah pelaku yang diberi label Mr X. Bermodalkan sketsa itulah polisi kembali mencari pelaku.

Pada prinsipnya, tutur Tito, polisi sudah mengupayakan pengungkapan sesegera mungkin. Hanya memang ada beberapa kendala, salah satunya ketiadaan sidik jari di TKP. ’’Saat akan di-swipe menggunakan serbuk, di situ (gelas air keras) masih basah sehingga sidik jarinya hilang,’’ terangnya.

Presiden Joko Widodo sendiri tidak mengisyaratkan apa pun saat ditanya mengenai kasus Novel dan rasa pesimistisnya akan kinerja kepolisian. ’’Saya akan tanyakan kapolri dulu,’’ ujar presiden saat ditanya wartawan di Cikarang baru-baru ini.

Sementara itu, mengenai tudingan Novel bahwa ada jenderal polisi di balik kasusnya, Tito menyatakan bahwa pihaknya perlu mendengar kesaksian langsung dari Novel. Tidak bisa mengandalkan pemberitaan di media massa. Sebab, dengan didengar langsung, maka keterangannya menjadi pro justisia.

Sejak pertengahan Juni lalu, tuturnya, polisi sudah mengupayakan untuk menemui Novel di Singapura. Sudah ada tim yang disiapkan, namun pihaknya masih menunggu pendamping dari KPK. Ketua KPK Agus Raharjo sudah menyatakan bakal ada komisioner yang mendampingi. Namun, hingga kemarin belum ada informasi dari KPK mengenai rencana keberangkatan ke Singapura.

Rencananya, pekan ini kepolisian akan kembali berkoordinasi dengan KPK untuk berangkat memeriksa Novel di Singapura. ’’Sekaligus memverifikasi secara teknis hal-hal yang sudah dilakukan polri, juga untuk melakukan langkah bersama ke depan dalam mengungkap kasus ini,’’ ujarnya.

Dia berharap, tim dari KPK bisa bergabung dengan kepolisian, khususnya Polda Metro Jaya untuk membentuk tim investigasi. ’’Bukan tim pencari fakta lagi, karena tidak pro justisia. Hasilnya tidak bisa langsung diajukan sebagai barang bukti untuk ke pengadilan,” tuturnya. Sementara, tim investigasi bisa langsung mengakses hingga ke data-data mentah. Lagi pula, dugaan tindak pidananya sudah jelas sehingga tim yang dibentuk sekaligus bisa menyidik kasus itu hingga tuntas.

Novel diserang pada 11 April lalu ketika baru saja pulang dari salat Subuh di Masjid Al Ihsan dekat kediamannya, sekitar pukul 05.10. Tidak lama pergi meninggalkan masjid, sejumlah jamaah mendengar teriakan Novel. Sesaat kemudian Novel dipapah masuk ke dalam masjid dan langsung ke tempat wudu untuk membasahi wajahnya.

Para pelaku langsung kabur melalui jalan yang tidak diportal. Itu menunjukkan bahwa kejahatan tersebut sudah direncanakan. Meskipun demikian, menurut warga, wajah pelaku sulit dikenali. Sebab, saat itu baru saja lepas subuh sehingga langit masih gelap.

Sementara itu, Novel Baswedan saat dihubungi Jawa Pos mengaku belum melihat sketsa wajah yang dirilis kepolisian. Novel pun menegaskan, bahwa dirinya tidak sempat melihat wajah pelaku ketika penyerangan terjadi pada 11 April lalu. Sehingga, percuma bila wajah tersebut ditunjukkan kepadanya. ”Saya belum lihat, Mas (sketsa wajah terduga pelaku, Red),” katanya.

Novel konsisten dengan apa yang pernah disampaikan sebelumnya. Yakni, pesimistis polisi mau menuntaskan kasus penyerangan air keras. Terkait langkah polisi merilis sketsa wajah terduga pelaku, Novel justru semakin yakin bahwa polisi tidak akan mengungkap kasusnya. ”Kalau (terduga pelaku) ketemu, nanti ada alibi apa lagi?” tanya ketua wadah pegawai (WP) KPK ini.(byu/tyo)

Komentar Anda