Beranda Metropolis

Sambut Duan Wu dengan Pesta Bacang

BERBAGI
MERIAH: Warga di sekitar Vihara Dhanagun Bogor memeriahkan perayaan Duan Wu dengan lomba makan bacang di halaman vihara, Jalan Suryakancana, kemarin (30/5).

BOGOR–Perayaan Duan Wu menjadi salah satu tradisi penting dalam kebudayaan Tionghoa. Perayaan ini dilakukan setiap tanggal 5 bulan 5 sesuai penanggalan kalender Imlek. Dalam perayaan ini, diwarnai dengan festival makan bacang dan perlombaan perahu naga, di Tiongkok.

Namun, meski tak bisa menghelat perlombaan perahu naga, bukan berarti perayaan Duan Wu di Kota Bogor sunyi senyap. Semaraknya perayaan Duan Wu amat terasa, salah satunya di Vihara Dhanagun, kemarin (30/5). Selain semarak dengan festival makan bacang, juga ada lomba mendirikan telur, serta perang balon air.

Pengelola Vihara Dhanagun, Kusuma mengatakan, perayaan Duan Wu dirayakan di Taiwan maupun Tiongkok, yang dimaknai dengan perayaan musim panas yang ditandai dengan berhentinya aktivitas sehari-hari. Pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan kalender
Imlek ini dianggap fenomena alam paling ekstrem. Sebab, letak matahari yang tengah tegak lurus dan dekat dengan bumi sehingga panas dan tekanan udara, gravitasi bumi semuanya menjadi satu di dalam empat penjuru.

“Sehingga hanya di hari ini, telur jika ditegakkan akan berdiri tegak lurus dan lebih mudah. Telur itu kalau diberdirikan, kuningnya akan berada di bawah, jadi bisa berdiri. Kalau dilakukan besok (hari ini, red) enggak akan bisa berdiri,” kata pria yang akrab disapa Koh Ayung ini.

Telur, kata dia, sebenarnya lebih kepada media saja, yang mempunyai makna karunia Tuhan bersatu di dalam tubuh supaya hidupnya seimbang. Kemudian, kata Koh Ayung, ada tradisi makan bacang yang terbuat dari ketan. Untuk diketahui, bacang yang dibuat dibentuk empat sudut yang berbeda, dimaknai dengan empat penjuru lautan.

“Nah, kalau perang balon sembari mandi itu, kalau manusia kepanasan, bisa dehidrasi kan. Di kita sebetulnya panas itu, ya sudah, mandi saja.
Dengan air sumur biasa, seusai dengan keyakinannya masingmasing. Sembari olahraga air, semprot-semprotan. Kalau memang ada perahu silakan, tapi yang penting kan olahraga air,” kata dia.

Kusuma menambahkan, perayaan Duan Wu memang sudah menjadi agenda rutin tiap tahunnya. Sebelum rentetan tradisi Duan Wu, seluru umat Tionghoa mengawalinya dengan sembahyang. “Kalau di Indonesia kan, Bhinneka Tunggal Ika, jadi lebih kepada persaudaraan,” tandasnya.(wil/c)

 

Baca Juga