Beranda Berita Utama

Upaya Tim Pentashih Menjaga Alquran dari Kesalahan Tulis

BERBAGI
TELITI: Dari kiri, Ida Zulfiya, Ahmad Jaeni, Fahrur Rozi, Ahmad Nur Qomari, dan Ahmad Khotib menunjuk- kan naskah yang mereka tashih.

SUDAH dua tahun Mushaf Jambi masuk ke LPMQ. Alquran tulisan tangan itu masih dalam proses pentashihan di lembaga yang terletak di Jalan Raya TMII Pintu I, kompleks Taman Mini Indonesia, tersebut.

Ada 10 pentashih atau pengoreksi yang dikerahkan untuk mengoreksi naskah baru. Agar tidak ada kesalahan yang luput, para pentashih harus membaca berulang-ulang. Setiap orang diberi tugas untuk membaca satu bundel naskah yang terdiri atas tiga juz.

Selesai dibaca, bundelan ayat suci itu diserahkan kepada pentashih lain untuk dibaca ulang. Jadi, naskah akan terus berputar sampai tidak ditemukan lagi kesalahan.

Sampai saat ini, mushaf tersebut sudah dibaca puluhan kali. Proses koreksi masih berlangsung.

’’Setiap halaman ditemukan banyak kesalahan,’’ terang Fahrur Rozi, Kasi Pembinaan dan Pentashih LPMQ, Jumat (26/5).

Kesalahan yang ditemukan, antara lain, kesalahan tulis, kesalahan harakat, dan kurang kata. Misalnya, pentashih menemukan kelebihan harakat pada Surah An-Najm ayat 32. Ada pula harakat yang kurang pada Surah Muhammad ayat 5. Selain itu, ditemukan kesalahan harakat pada Surah Az Sukhruf ayat 58. Belum terhitung berapa jumlah kesalahan. Juga, belum diketahui kapan mushaf setebal 728 halaman itu selesai ditashih.

Dibutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses tashih karena teks itu merupakan tulisan tangan. Bukan tulisan yang berbentuk file. Dibutuhkan ketelitian yang luar biasa. Setiap pentashih bisa membaca puluhan kali atau puluhan putaran. Walaupun dibaca berulang-ulang, kadang masih saja ditemukan kesalahan.

Rozi menyatakan, sebelumnya lajnah juga mentashih Mushaf Banten. Ditemukan banyak sekali kesalahan. Ada ribuan kesalahan tulis. ’’Sudah selesai ditashih dan sekarang sudah diterbitkan. Itu dua tahun baru selesai,’’ papar pria yang hafal 30 juz Alquran itu.

Penulisan mushaf baru merupakan program pemerintah provinsi. Baik Mushaf Banten maupun Mushaf Jambi. Ada tim khusus yang dibentuk untuk menulis kitab suci umat Islam itu. Mereka juga membutuhkan waktu lama untuk menulis Alquran.

Selain mentashih mushaf tulisan tangan, tim pentashih mengoreksi naskah dari penerbit. ’’Setiap hari tugas pentashih adalah membaca Alquran,’’ terang Rozi.

Saat ini, kata dia, ada beberapa naskah dari penerbit yang berbeda. Ada naskah dari Penerbit Adhwaul Bayan Depok, Qolam Serambi Jakarta, Penertib Yayasan Al Madina Qurani Bandung, dan naskah lain. Total ada 20 naskah yang sedang diteliti dan dikoreksi. Sebagian sudah siap diserahkan ke penerbit untuk dicetak. Sebagian lagi masih berada di tangan para pentashih untuk diteliti secara mendalam. Semua harus ditashih sebelum disebar ke masyarakat.

Proses tashih hampir sama dengan mushaf baru. Namun, waktu yang dibutuhkan lebih cepat. ’’Berputar tiga kali,’’ tutur Rozi.

Jadi, setiap orang bisa meneliti 9 juz. Harus tetap teliti dan cermat. Kadang ada pentashih yang sudah membaca semua lembar ayat dalam bundel naskah yang belum dicetak itu dan tak menemukan kesalahan. Namun, ketika naskah itu dibaca orang lain, ternyata ditemukan kesalahan.

Pentashih yang sudah membaca harus menuliskan nama atau tanda tangan di kertas kuning yang ditempelkan dalam naskah tersebut. Misalnya, yang dilakukan Rozi setelah membaca naskah milik Penerbit Adhwaul Bayan. Dia menuliskan namanya di kertas kuning. ’’Ini tanda kalau saya sudah baca naskah ini,’’ jelas ayah enam anak tersebut.

Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, itu mengungkapkan, naskah dari penerbit umumnya hanya dibaca sekitar tiga putaran. Dalam sebulan, pentashih sudah merampungkan proses koreksi dan siap menyerahkannya ke penerbit.

LPMQ pun memberikan tanda tashih pada naskah tersebut. Namun, untuk koreksi Alquran yang disertai terjemah, tajwid, dan transliterasi atau ditulis dengan huruf latin, pentashih membutuhkan waktu lebih lama. Bisa dua sampai tiga bulan.

’’Mushaf di Indonesia kan sangat beragam. Orang Indonesia sangat kreatif dalam penerbitan Alquran,’’ tutur suami Lailatul Zahra itu.

Selain mengoreksi mushaf Alquran biasa, lajnah melakukan tashih terhadap Alquran digital. Sejak 2015, ada beberapa penerbit yang mengajukan tashih. Ada 4 Alquran digital yang sudah ditashih. Saat ini tim pentashih menangani satu naskah digital.

Proses tashih tidak jauh berbeda dengan naskah manual. Penerbit harus menyerahkan bentuk digital dan bentuk print- out. Jadi, pentashih akan meneliti dan mencocokkan versi digital dengan print-out. ’’Koreksinya ya di naskah yang print-out,’’ katanya. Setelah selesai tashih, penerbit diminta memperbaiki sesuai dengan hasil koreksi di print-out.

Dalam melakukan koreksi, pentashih harus teliti dan sangat jeli. Yang paling penting, pentashih tidak boleh sombong atau meremehkan. Jika meremehkan, bisa dipastikan ada saja kesalahan yang luput dari penglihatannya.

Misalnya, ada pentashih yang menganggap naskah yang telah dibaca benar semua. Kalau kalimat itu yang diucapkan, tidak menutupkan kemungkinan masih ada kesalahan yang terlewatkan.

Sikap meremehkan tersebut pernah dilakukan salah seorang penulis mushaf baru. Setelah menulis satu lembar, dia yakin semua sudah benar dan tidak mungkin salah. Dia juga sudah berulang-ulang membaca. Namun, dalam hatinya, ada sikap meremehkan. Setelah satu lembar itu ditashih, ternyata ada kesalahan yang sangat fatal. Padahal, dia yakin sudah tidak ada kesalahan.

’’Satu lembar naskah itu kemudian ditulis ulang. Padahal, biaya untuk menulis satu lembar itu mencapai Rp 5 juta karena tintanya bagus dan mahal,’’ ungkap alumnus UIN Sunan Kali Jaga Jogjakarta tersebut.

Selain mentashih mushaf untuk orang normal, lajnah mengoreksi Alquran braille. ’’Tahun lalu ada dua naskah yang masuk,’’ timpal Ahmad Jaeni, salah seorang pentashih.

Tidak semua pentashih bisa mengoreksi naskah braille. Di antara 25 pentashih, hanya lima orang yang bisa mentashih. Lima orang itu sudah mengetahui sistem penulisan ayat Alquran dalam bentuk braille. Ada dua yang dilihat, yaitu antara tulisan Arab dan tulisan braillenya. Kadang tulisan Arab-nya benar, tapi braillenya salah.

Rozi menambahkan, lembaganya menangani cukup banyak naskah Alquran. Dalam setahun, ada sekitar 200 naskah yang ditashih. Jadi, dalam sebulan bisa 10–12 naskah yang ditashih. Proses pentashihan Alquran dilakukan sejak 1957. Namun, saat itu belum berbentuk lembaga tersendiri. Jika ada naskah yang perlu ditashih, baru dibentuk tim. Baru pada 2007 dibentuk LPMQ yang di dalamnya terdapat tim pentashih yang sekarang beranggota 25 orang.(*)

Komentar Anda

Baca Juga