Beranda Berita Utama

Jaringan Internasional Serbu Indonesia

BERBAGI

BOGOR–Persoalan penyalahgunaan narkoba di negeri ini seolah tidak pernah habis. Masih maraknya peredaran barang haram itu menjadi bukti nyata ancaman tersebut.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso (Buwas) mengatakan, In donesia menjadi pangsa-pangsa terbesar pere daran narkoba, sehingga sulit memberantas bila pangsa-pangsanya masih stabil. “Tidak bisa dihentikan sesaat. Karena pengguna narkoba ini, sudah addict, ada atau tidak ada uang dia harus dapat,” ujarnya.

Buwas menjelaskan perkembangan dan hubungan jaringan narkoba internasional dengan pasar di Indonesia. Menurutnya, jaringan Kolombia saat ini bekerja di Indonesia.

Beberapa waktu lalu bahkan terungkap di Lombok.

“Jaringan kokain di Lombok itu adalah jaringan di Kolombia. Di Filipina juga begitu, jaringan- jaringan di sana pindah ke Indonesia. Dan, suplai-suplai untuk Filipina dari berbagai negara sekarang arahnya ke Indonesia, karena pangsa- pangsanya sekarang beralih pada Indonesia,” bebernya.

Buwas mengaku baru mendapat informasi dari Badan Narkotika Tiongkok. Mereka menyampaikan data bahwa prekursor (bahan pemula untuk membuat narkoba) produk Tiongkok itu masuk ke Indonesia jumlahnya 1.097,6 ton.

Dokter ahli narkotika dan seksologi, dr Bona Simanungkalit, DHSM, MKes, mengurai data Flakka berdasarkan data World Health Organization (WHO) Badan Kesehatan Dunia PPB.

Bona mengatakan, Flakka terbilang jenis baru dari psikotropika. Meski demikian, zat adiktif bersifat stimulan ini sudah ada sejak 1960-an dengan nama kimia Alpha pyrrolidinopentiophenone (Alpha PVP).

“Dibilang baru enggak. Tapi dalam konteks ini memang iya, dan namanya relatif banyak macamnya,” jelasnya kepada Radar Bogor kemarin (29/5).

Pria yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Asosiasi Seksologi Indonesia ini menyebut jenis Flakka termasuk zat sintetis. Dalam kasus ini, sintetis bagian dari katinon. Jenis penamaan sintetis katinon, menurut dia, juga terbilang beragam. Umum di daratan Eropa dikenal dengan Flakka. Bentuknya berupa kristal bubuk. “Hampir sama seperti sabu kristal. Bisa dihirup, bisa dalam rokok. Bisa dalam bentuk lain,” imbuhnya. Sejatinya, lanjut dia, penggunaan zat adiktif untuk keperluan medis.

Ciri khas pada pengguna ini juga terjadi kerusakan otot. Tubuh penggunanya tidak bisa mengendalikan diri. “Bisa kacau pemikirannya, paranoid halogen, gangguan jiwa,” cetusnya.
Di tempat terpisah, Dokter Pratama Seksi Rehabilitasi pada BNN Kabupaten Bogor dr Aprilia Lewanna menjelaskan, sejak tahun lalu, BNN dan Kemenkes telah mengkaji narkoba tersebut. “Flakka memang belum banyak beredar di Indonesia. Lebih banyak beredar di Amerika Serikat. Dengan dosis yang sedikit saja bisa menimbulkan overdosis yang membuat sakau dan sekarat,” bebernya.

Kasat Narkoba Polresta Bogor Kota Kompol Yuni Purwanti Dewi Yuni mengaku, di Kota Bogor, selama ini belum ditemukan kasus Flakka. Yuni menyebut zat itu serupa sintetis atau persis seperti kasus tembakau gorila. “Bisa makan orang sampai berdarah-darah badannya,” ucapnya. Pengguna Flakka sendiri, jelas Yuni, tidak bisa dicek secara personal. Namun, secara fisik bisa terlihat seperti video yang beredar. Meski demikian, dia mengimbau masyarakat tetap waspada. “Kalau ada layaknya seperti hukum mati. Kita sudah mendapat warning. Sebab, harga murah dan kalangan menengah bisa membeli,” pungkasnya.

Di Kabupaten Bogor, Kasat Narkoba Polres Bogor AKP Andri Alam Wijaya, mengatakan sedang mendeteksi masuknya Flakka di Indonesia. “Saat ini sudah ada 65 jenis baru dan dengan Flakkka ini menjadi 66,” ujarnya kepada wartawan, tadi malam (29/5).

Cara penggunaannya, menurut Andri, beragam. Mulai dari diisap, bentuk pil siap minum, dan dibakar dalam alat isap. “Semakin aktifnya enggak ngerasa sakit apa-apa dan sangat berbahaya, seperti di video,” jelasnya.(tyo/don/c)

Baca Juga