Beranda Berita Utama

Entitas Nilai Saum

BERBAGI

SAUM Ramadan pada bulan ini, tidak hanya sekadar ritual yang kita kerjakan dan setelah itu selesai. Namun, Rama dan ada lah lang kah awal un tuk me nunjukkan ma nusia yang seben arnya. Betapa ketika orang yang ber iman me laksanakan saum, tidak pernah terbay angkan dalam diri nya akan menda pat kan pahala sekian besar dan balasan dari Allah SWT, tetapi semata– mata kita me nger jakannya hanya untuk mendapatkan “peduli”-nya Allah SWT.

Ada satu titik temu yang dapat kita peroleh ketika mencermati ayat-ayat Alquran maupun Sabda Rasulullah Muhammad SAW yang membicarakan saum, Allah SWT mendidik secara langsung hamba-hamba-Nya untuk kembali pada kesejatian dirinya.

Sesungguhnya kita sejak awal telah ditantang oleh Allah SWT agar berpuasa dengan cara memaksimalkan nalar dan sejarah pengalaman berpuasa untuk bisa menguak kebaikan yang terkandung di dalamnya. Satu di antaranya akan kita pelajari nilai-nilai edukasinya. Apakah itu nilai? Nilai atau value adalah tanggapan seseorang terhadap suatu keadaan atau peristiwa yang faktual, di mana orang tersebut dapat merasakan, memikirkan secara mendalam bahwa keadaan tersebut mendatangkan makna yang sangat berharga bagi diri dan kehidupannya. Itu sebabnya, seseorang yang telah menjalani puasa selama bulan suci Ramadan, misalnya, akan mewujudkan perilaku berbeda antara satu orang dengan yang lainnya dan itulah tahap tertinggi dari apresiasi seseorang terhadap puasa yang telah dilaksanakannya.

Dari berbagai teori tentang nilai, misalnya, Spranger dalam buku Pattern and Growth in Personality (Allport, 1964) mengatakan bahwa setiap orang akan melihat dan menilai suatu fakta sosial karena dipengaruhi oleh orientasinya.

Masing-masing nilai mempunyai karakter dan orientasi tersendiri, sesuai dengan pembagiannya berikut ini.

Pertama, nilai teoretik. Aspek teoretik selalu berdasarkan pertimbangan logika karena ada hal yang dipikirkan dan dibuktikan lebih lanjut.

Unsur benar-salahnya didasarkan pada pertimbangan akal. Karenanya ia selalu terkait dengan konsep, dalil, aksioma.

Kedua, nilai ekonomis. Dasar pemikirannya nilai ini adalah untung-rugi, karena pertimbangannya terletak pada harga suatu barang atau jasa. Ketiga, nilai estetik. Nilai yang paling esensialnya adalah pada estetika, indah-tidak indahnya sesuatu. Ia sering kali ditentukan oleh unsur pribadi yang bisa saja subjektif. Keempat, nilai sosial. Unsur yang diutamakan oleh nilai ialah adanya hubungan harmonis atau kasih sayang antarsesama individu. Kelima, nilai politik. Aspek yang menjadi tolok ukur nilai adalah kekuasaan. Ia sangat ditentukan oleh pergerakan yang intens antar kelompok atau individu dalam komunitas umum. Di sini pulalah letak arti pentingnya kalahmenang dalam meraih kekuasaan (power) terutama di kalangan politisi atau birokrat. Keenam, nilai agama. Bila dibandingkan nilai-nilai sebelumnya, maka agama yang kadar nilainya tertinggi oleh karena yang hendak dituju adalah Tuhan. Unity atau kesatuan, keselarasan antara perilaku, sikap dan ketaatan seorang hamba terhadap Tuhannya menjadi unsur-unsur orientasi utamanya.

Sekaitan dengan itu, perlu kiranya kita ungkapkan detail unsur edukasi puasa yang sarat akan nilai-nilai luhur dan berimplikasi besar bagi perbaikan moral pribadi, bangsa dan kelangsungan hidup dan kehidupan umat manusia.

Pertama, nilai pemeliharaan jiwa tauhid yang ada di dalam diri setiap orang. Bukankah puasa Ramadan diawali dengan adanya ajakan yang percaya kepada Diri-Nya. Melalui ibadah puasa Ramadan, Allah melakukan penyadaran total kepada setiap hamba-Nya.

Kedua, nilai historis puasa. Puasa telah berlangsung dan memiliki sejarah tersendiri sepanjang sejarah kehidupan umat manusia di planet bumi ini. Meskipun bukan buku sejarah, Alquran membicarakan juga masalah sejarah kehidupan umat manusia termasuk dalam hubungannya dengan puasa. Sejarah dijadikan oleh Allah SWT sebagai unsur pembelajaran atau ibrah bagi manusia yang akan hidup kemudian mengenai seperti apa dan bagaimana kehidupan umat atau perorangan di masa silam.

Ketiga, nilai ketakwaan kepada Allah. Takwa adalah tujuan utama puasa. Takwa harus menjadi pakaian kita selanjutnya dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Pakaian yang dimaksud bukanlah jenis-jenis pakaian takwa yang dirancang oleh para desainer sehingga menghasilkan bentuk baju yang tak berkerah atau sejenisnya. Rupanya, ketakwaan yang kita capai akan menjadi bekal untuk melakukan ibadah haji.

Keempat, nilai imsak. Imsak berarti menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Imsak berarti starting point bagi seseorang yang akan berpuasa pada keesokan harinya, mulai terbit fajar dari ufuk timur hingga terbenamnya matahari di ufuk barat.

Imsak mengandung nilai dan filosofi yang sangat tinggi, karena melalui imsak seseorang mulai menahan diri untuk tidak melakukan segala hal yang memungkinkan mengurangi dan membatalkan puasa, meskipun sesungguhnya hal itu adalah miliknya sendiri.

Konsekuensinya, setiap orang yang berpuasa seperti itu haruslah bersabar. Sabar banyak disinonimkan dengan puasa, sebagaimana gambaran dari firman Allah SWT yang menyatakan, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas” (QS Al-Zumar/39:10).

Kelima, niat ihtisaban. Dasar puasa Ramadan yang paling populer adalah sabda dari Rasulullah SAW. “Barang siapa berpuasa penuh keimanan dan introspeksi diri, maka diampuni segala dosa yang telah lalu” (H.R. Bukhari, Muslim). Ihtisaban sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan introspeksi diri yang sesungguhnya lebih tepat bila diterjemahkan menjadi melakukan koreksi diri atau self-examination.

Sekaitan dengan itu, inilah sikap yang paling berat untuk dilakukan oleh setiap orang untuk mau secara jujur melihat kelemahan atau kekurangan diri sendiri. Orang masih sering melakukan
sikap untuk bijaksana tapi tidak pernah mau bijaksana. Atau sejalan dengan pepatah orang dahulu “Kuman di seberang tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak”. Ini baru sebagian nilai edukasi puasa setiap bulan Ramadan kita jalani, yang jika kita gali nilainilai luhur yang terdapat di dalamnya kemudian kita implementasikan, internalisasikan dan dijadikan asas serta pandangan di dalam kehidupan kita secara pribadi, keluarga, berbangsa dan bernegara, maka semakin terkuak tantangan dari Allah sendiri sebagaimana firman-Nya, “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS Al-Baqarah/2:184). Marilah kita jalani prosesi ibadah puasa Ramadan ini atas dasar iman, takwa, dan ilmu pengetahuan untuk keselamatan kita menjalani kehidupan di dunia ini dan kebahagiaan kita di akhirat kelak.

Keenam, nilai keilmuan. Berdasarkan informasi Alquran dan keyakinan umat Islam bahwa mula diturunkannya wahyu yang pertama sekaligus menandai kerasulan Muhammad SAW adalah terjadi pada bulan Ramadan. Lima ayat yang sekarang termaktub dalam kitab suci Alquran pada awal surah Al-Alaq/96 langsung memerintahkan Muhammad untuk membaca. Allah Yang Maha Tahu, menyadarkan Muhammad dan seluruh umat manusia bahwa membaca merupakan kunci utama setiap orang untuk memasuki wilayah ilmu pengetahuan.

Ketujuh, nilai qiyam al-layl. Melalui salat sunah Tarawih akan tampak dan terasa suasana kekeluargaan, rasa persaudaraan serta rasa kesetaraan di hadapan Allah SWT. Islam mengajarkan sifat egalitarian, yakni kesederajatan di hadapan Yang Maha Kuasa. Kesemuanya itu menunjukkan bahwa melalui media salat Tarawih itu, kita mampu memupuk, memelihara dan mempertahankan nilai-nilai humanistik Islam yang cenderung mulai redup karena berbagai kepentingan dan alasan kesibukan duniawi dan material semata. Waallahu ‘alam.

 

Baca Juga