Beranda Berita Utama

Gilang Sempat Hubungi Ibu, Taufan Minta Mi Rebus ke Adiknya

BERBAGI
HISTERIS: Nining (tengah), ibu orang tua anggota Satuan Shabara Polda Metro Jaya Briptu (anumerta) Imam
Gilang Adinata, usai upacara pelepasan di Menteng Dalam, Jakarta, Kamis (25/5)

Duka menyelimuti keluarga para korban ledakan bom panci di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Ketiga anggota Polri yang gugur oleh aksi biadab teroris itu dimakamkan kemarin (25/5) dengan upacara militer di daerah asal mereka. Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga memberikan kenaikan pangkat luar biasa anumerta, atau setingkat lebih tinggi kepada para korban.

NINGWIYARTI (50) tak hentihentinya menatap peti jenazah anaknya, Briptu Imam Gilang Adinata. Almarhum adalah polisi yang tewas karena ledakan bom bunuh diri di Kampung Melayu, Rabu malam (24/5). Mata Nining sembap akibat tak kunjung berhenti menangis.

Sambil tergopoh-gopoh, dia dibantu anggota polwan menuju mobil ambulans yang membawa jenazah anak pertamanya ke kampung halaman di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Jenazah Gilang dibawa setelah diberikan penghormatan terakhir dengan upacara militer yang dipimpin Kapolres Jakarta Selatan Kombes Iwan Setiawan kemarin pagi.

Jenazah dibawa dari tempat duka di Jalan Klingkit, RT 05 RW 01, Menteng Dalam, Kecamatan Tebet, diikuti rombongan keluarga. Ningwiyarti mengaku tak memiliki firasat apa pun mengenai anaknya tersebut. “Tidak ada firasat apa-apa, tapi sebelum kejadian sempat telepon kasih tahu kalau dia lagi tugas di Kampung Melayu,” ujarnya.

Di tempat sama, paman korban, Muhamad Rifky (40), mengatakan, keluarga pertama kali mendapat informasi Gilang menjadi korban bom bunuh diri pada Rabu (24/5) pukul 22.00. Waktu itu, kata dia, dua polisi datang ke rumah korban untuk memberi kabar tersebut.
“Sejam dari kejadian sudah ada anggota polisi yang ke rumah, kasih kabar keponakan saya jadi korban tewas bom di Kampung Melayu,” terang dia.

Saat mendapat kabar, Rifky langsung ke rumah keponakannya. Jenazah baru sampai ke rumah korban untuk disemayamkan pada pukul 05.00. “Setelah dibawa ke rumah sakit, jenazah pagi tadi sampai ke rumah,” ujar dia.

Di tempat terpisah, Denanda Putri Pamungkas, adik almarhum Bripda Taufan Tsunami, menuturkan saat-saat keluarga mendapat kabar duka atas kepergian sang kakak. Dena mengaku terbelalak melihat pesan WhatsApp pada Rabu lalu (25/5). Pesan yang diterimanya pukul 21.45 tersebut bertuliskan telah terjadi ledakan bom di Halte Transjakarta Terminal Bus Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Dalam pesan tersebut diinformasikan kalau Taufan berada di Rumah Sakit Premier Jatinegara. Bergegas bersama kedua orang tuanya bernama Heri Busono dan Aisjah, dirinya menuju ke rumah sakit tersebut. Tubuhnya itu terasa sangat lemas ketika tiba di lokasi. Tangisan histeris pun akhirnya pecah saat melihat jasad orang yang dicintainya itu telah tiada. “Masih nggak percaya, Mas. Kenapa begitu cepat kakak pergi meninggalkan kita,” ucapnya dengan nada terbata-bata.

 

Denanda bercerita, dua jam sebelum peristiwa itu terjadi Taufan menghubunginya. Pukul tujuh malam mereka melakukan video call. Dalam video call tersebut dia bersenda gurau. Saling becanda satu sama lain. Taufan mengingatkan dia untuk salat dan makan malam. Taufan pun meminta dirinya untuk membuatkan mi rebus ketika sudah sampai di rumah. “Dia menyuruh saya jangan tidur dulu. Soalnya jam satu kakak pulang. Kakak minta saya untuk dimasakin indomie. Alasannya lagi pengen saja makan mi,” ujar perempuan berusia 21 tahun di kediamannya kemarin (25/5).

Permintaan tersebut tak bisa ditolaknya. Dia menjanjikan akan membuat mi itu ketika sang kakak sudah pulang ke rumah. Sehingga makanan tersebut bisa langsung disantapnya. Video call tersebut berlangsung sekitar sepuluh menit. Selain membicarakan makanan, dirinya menanyakan keberadaan sang kakak. Taufan menjawab kalau sedang ada di kantor. Taufan tidak memberitahukan kepadanya kalau akan bertugas mengawal pawai obor. Namun, kali ini dirinya marasa ragu atas jawaban Taufan.

Pasalnya, di layar handphone kondisi di lokasi sangat gelap. Selain itu, suara bising kenalpot kendaraan bermotor terdengar jelas di telinga. Dirinya pun mempertegas pertanyaan tersebut. Namun sang kakak tetap kekeh dengan jawabannya. “Emangnya di kantor nggak boleh berisik ya. Haha,” ucapnya menirukan omongan Taufan.

Dengan musibah yang dialaminya dirinya merasa adanya keanehan sedikitpun. Taufan bersikap dengan biasanya. Yaitu berangkat pagi, pulang sore atau malam. Dan langsung istirahat. Hanya saja kamis (26/5) dia ?seharusnya lepas dinas. Namun tiba – tiba Taufan mendapatkan tugas mendadak untuk mengawal pawai obor. Sebagai seorang polisi semua tugas yang diberikan harus terlaksana. Mau tidak mau Taufan berangkat menjalankan tugas tersebut. “Emang seharusnya hari ini libur (kamis 26/5). Cuma karena ada tugas jadi dia tetap masuk. Itu hal biasa. Jadi saya tidak curiga,” paparnya.

Heri mengaku banyak sikap anaknya itu yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Seperti Taufan sangat suka memasak. Setiap libur Taufan sering mengajak keluarga untuk makan di luar. Satu per satu warung makan dimasukinya. Taufan melakukan hal itu hanya untuk membahagiakan kedua orang tuanya itu senang. “Dia sangat dekat sekali sama kami semua. Apalagi sama umminya. Jadi kalau libur yang dirumah saja. Main sama saudara- saudaranya,” kenangnya.(ian/and/bry)

Baca Juga