Beranda Berita Utama

22 TEWAS, BELASAN HILANG

BERBAGI
LUKA-LUKA: Penonton konser Ariana Grande menolong rekan mereka yang menjadi korban ledakan bom di Manchester Arena, Manchester, Inggris, kemarin (23/5). Foto bawah, mobil polisi dan ambulans lalu lalang di luar stadion. (KEPSION)

MANCHESTER–Keceriaan puluhan ribu remaja dan anak-anak di penghujung konser Ariana Grande, di Manchester Arena Senin malam waktu setempat (22/5), berubah jerit histeris. Dua bom bunuh diri menutup pertunjukan yang dihadiri 21.000 penonton itu.

Salah seorang penonton, Paula Robinson sedang berada di Stasiun Victoria Man chester bersama suaminya saat leda kan bom pertama meng gun cang Man chester Arena.

Beberapa detik kemudian, bom kedua meledak dengan kekuatan yang lebih kecil. Dalam kepanikan nya, perempuan 48 tahun itu melihat sekelompok remaja putri yang ber teriak-teriak dan lari ketakutan.

Remaja-remaja itu berlari ke arah Robinson yang berdiri di seberang lokasi konser Ariana Grande tersebut. Tanpa pikir panjang, dia menyuruh bocah- bocah itu mengikutinya dengan melambai-lambaikan tangan ke arah mereka. ”Kami lantas lari bersama-sama. Itu hanya beberapa detik setelah ledakan terjadi,” kata penduduk West Dalton tersebut kepada Manchester Evening News.

Robinson memimpin rombongan remaja putri itu berlari ke arah sebuah hotel. ”Mereka saya ajak ke Holiday Inn Express,” ujarnya. Total, ada sekitar 50 remaja yang berlindung di hotel tersebut atas panduan wanita berambut pirang tersebut. Sadar bahwa remaja-remaja penggemar Grande itu pasti dicari orang tua mereka, dia lantas mengunggah informasi tentang keberadaan mereka di Facebook dan Twitter.

Terpisah, Holiday Inn Express menyatakan bahwa hotel mereka menampung puluhan remaja yang selamat dari ledakan tapi kebingungan karena tidak bisa pulang. Holiday Inn, hotel lain di sekitar Manchester Arena yang masih satu jaringan dengan Holiday Inn Express, juga membuka pintunya untuk para korban. Tapi, jubir hotel mengaku tidak ada Robinson di sana.

”Sepertinya, perempuan itu salah menuliskan nama hotel. Tapi, dua hotel kami di kawasan Manchester Arena juga menampung puluhan remaja yang menunggu dijemput orang tua mereka,” kata sang jubir yang tidak mau menyebutkan namanya kepada The Independent.

Kemarin pagi, Robinson mengaku sudah tidak bersama dengan remaja-remaja putri yang dia giring ke hotel terdekat dari Stasiun Victoria Manchester. ”Silakan hubungi petugas di nomor 0161 856 9400 saja,” katanya. Pernyataan yang sama juga disampaikan jubir Holiday Inn Express. Dia meminta masyarakat tidak langsung mengontak hotel karena mereka tidak berhak membagikan informasi.

Kebaikan Robinson dan dua hotel jaringan Holiday Inn yang tersebar luas lewat media sosial menular ke seluruh penduduk Manchester alias Mancunian. Sejak Senin malam hingga kemarin, warga yang berada di sekitar lokasi kejadian menawarkan rumah mereka sebagai tempat penam- pungan. Tagar #RoomForManchester pun langsung memenuhi dunia maya. Terutama, Facebook dan Twitter.

”Jika Anda membutuhkan tempat tidur, secangkir teh atau mengisi ulang baterai telepon genggam dan lain-lain, rumah saya 15 menit dari Manchester Arena. Silakan DM saya. #RoomForManchester,” tulis Rachel Ellis lewat akun @rachelkellis. Tawaran-tawaran senada juga bermunculan dari warganet yang lain. Tidak hanya individu, sejumlah hotel dan organisasi yang ada di Manchester mena- warkan kebaikan yang sama.

Melalui akun Twitter mereka, sejumlah pengemudi taksi juga menawarkan tumpangan gratis kepada para korban selamat. Salah satunya adalah Alastair Stewart. Dia bersedia mengantarkan para penonton konser kembali ke rumah masing-masing tanpa memungut biaya sepeser pun. Tidak hanya para pengemudi taksi, sejumlah warga juga menawarkan jasa antar gratis kepada para korban.

Tumpangan gratis menjadi salah satu kebutuhan para korban. Khususnya, para remaja yang menonton konser Grande tanpa ditemani orang tua mereka. Atau, mereka yang tidak mungkin dijemput oleh orang tua. Sebab, sejak Senin malam hingga kemarin, pemerintah kota menghentikan operasional seluruh kereta api yang melewati Stasiun Victoria Manchester.

Bev Craig, salah seorang politikus senior di Manchester, mengaku terharu dengan kebaikan warganya. ”Mancunian membuka rumah mereka untuk orang-orang asing dan menawarkan tumpangan gratis. Inilah Manchester yang saya cintai,” ungkapnya lewat akun Twitter resminya.

Selain kamar dan teh atau kopi serta tumpangan, penduduk Manchester juga ramai-ramai menyatakan kesanggupan mereka untuk mendonorkan darah. Itu karena selain menewaskan 22 orang, ledakan yang terjadi di sekitar area bar tersebut juga membuat sedikitnya 60 orang terluka. ”Banyak yang mendaftarkan diri untuk menjadi pendonor. Kalian adalah penyelamat,” terang Mike Stredder, direktur Give Blood NHS.

Kendati penduduk Manchester sangat tanggap dan banyak membantu pascaledakan yang oleh Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May disebut sebagai teror itu, jumlah penonton konser yang hilang masih tetap banyak. Para orang tua memanfaatkan media sosial untuk mencari anak mereka dengan menggunakan tagar #PrayForManchester atau #StandTogether.

Michael MacIntyre yang kehilangan putrinya, Laura, mengunggah foto anaknya di Twitter. ”Tolong…tolong retweet. Saya mencari anak perempuan saya dan seorang temannya,” tulisnya. Di jagat maya, para selebritis Inggris pun ikut menyebarluaskan cuitan maupun posting-an orang tua yang kehilangan putra-putri mereka. Salah satunya adalah penulis Harry Potter, J.K. Rowling.

Sedangkan, Saffie Rose Roussos yang sempat dilaporkan hilang oleh ayahnya, Adam J. Brown, lewat Facebook akhirnya ditemukan. Tadi malam WIB, bocah delapan tahun itu teridentifikasi sebagai korban tewas kedua. Ciri-ciri yang Brown sebutkan dalam unggahan sebelumnya pun klop dengan jasad di ruang koroner polisi. Mayat itu berbalut kaus denim dengan gambar wajah Grande dan rok pendek hitam.

Senin, Roussos menonton konser penyanyi asal AS kesayangannya itu bersama sang kakak dan ibunya. Setelah terjadi ledakan, dia terpisah dengan keluarganya. Sang ibu, Lisa, dan kakaknya, Ashlee, dirujuk ke rumah sakit karena terluka. Ayahnya pun menggunakan media sosial untuk mencarinya. Belakangan, Roussos dikabarkan meninggal dunia.

Sebelumnya, polisi sudah mengidentifikasi satu korban lainnya. Yakni, Georgina Callander. Gadis 18 tahun itu tercatat sebagai mahasiswi Runshaw College. Dia memang dikenal sebagai penggemar berat Grande. Sekitar dua tahun lalu, dia sempat berfoto bersama sang idola dan mengunggahnya ke internet. ”Doa dan simpati kami untuk keluarga Georgina dan seluruh korban lain,” kata jubir Runshaw College.

Berita kematian Georgina itu membuat seluruh teman dekat gadis periang tersebut berduka. Lewat YouTube, mereka lantas menggalang dana untuk memakamkannya. Dalam waktu dua jam, mereka berhasil menghimpun dana sebesar 1.500 poundsterling atau sekitar Rp25,9 juta. Saat ini, ada sekitar 20 korban tewas lain yang sedang menjalani identifikasi.

Sementara itu, Grande yang sebagian besar penggemarnya adalah anak-anak dan remaja putri menyampaikan keprihatinannya. Tak lama setelah dia meninggalkan panggung dan balon-balon berwarna pink dilepaskan sebagai penanda berakhirnya konser, meledaklah bom pertama yang diyakini berasal dari seorang pelaku bom bunuh diri. Pemilik hit One Last Time itu pun mengaku syok.

”Hancur. Dari lubuk hati saya yang paling dalam. Saya sungguh sungguh prihatin. Saya tidak bisa berkata-kata,” tulis Grande pada akun Twitternya. Senin, seluruh tiket konser Grande terjual. Manchester Arena yang berkapasitas 21.000 orang pun penuh sesak. Konser itu merupakan konser pembuka dari rangkaian tur Eropa penyanyi 23 tahun tersebut. Rencananya, dia akan menggelar dua konser lain di Inggris. Tapi, insiden Senin malam membuyarkan seluruh rencana tersebut.(AFP/Reuters/ theindependent/metro/ thetelegraph/CNN/hep/ any)

 

Baca Juga