Beranda Berita Utama

Nobar Penari Bugil Asal Bogor

BERBAGI

Nama Bogor kembali tercoreng oleh praktik prostitusi kaum sodom. Kemarin(22/5), SA, pemuda 29 tahun asal Bogor, ditangkap bersama 140 pria, sedang asyik berpesta seks, di sebuah tempat tness dan spa, di Jakarta Utara. Penangkapan tersebut menambah panjang deretan kasus pemuda Bogor yang terlibat prostitusi gay.

Pengungkapan yang dilakukan Polres Metro Jakarta Utara itu terbilang sangat besar. Jumlah peserta pesta seks gay yang mencapai 141 orang adalah tangkapan terbesar yang dari satu pesta seks yang pernah terjadi di Indonesia. Empat di antaranya berasal dari luar negeri, Inggris, Singapura, dan Malaysia.

”Kami menangkap 10 orang pekerja dan 131 pengunjung,” kata Kapolres Metro Jakarta Utata Kombes Pol Dwiyono. ”Sepuluh pekerja itu adalah seorang sekuriti, enam penari striptis, seorang pengelola, dan dua kasir yang merangkap resepsionis. Mereka menjadi tersangka,” lanjutnya.

Semua pria yang diamankan diinapkan di Mapolres Jakarta Utara selama 17 jam. Polisi melakukan pemeriksaan urine untuk mengetahui apakah mereka melakukan penyalahgunaan narkoba. ”Lima pengunjung positif narkoba dan kami masih tahan. Lalu, ada dua orang dari pekerja yang positif narkoba,” papar Dwi.

Bahwa di Atlantis Jaya Gym ada pesta seks, polisi mendapatkan informasi dari masyarakat. Laporan itu masuk sejak Februari lalu. Namun, penindakan baru dilakukan kemarin karena polisi memastikan dulu kebenaran informasi itu. ”Kami memantau dan menyelidiki selama sekitar tiga bulanan,” tutur Dwi.

Sesuai namanya sebagai pusat kebugaran, Atlantis Jaya Gym menyediakan peralatan fitness. Namun, dari lantai dua sampai empat bagunan ruko itu dipergunakan sebagai tempat bisnis prostitusi sesama jenis. Saat digerebek, Atlantis Jaya Gym sedang menyelenggarakan pesta seks berjudul The Wild One. Pengunjung dikenai biaya Rp185 ribu untuk masuk.

Dwi menegaskan, para pelaku akan dijerat pasal UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Mereka akan dibagi dalam dua kelompok, yaitu penyedia jasa pornografi. Masuk kelompok ini adalah CDK yang merupakan pengelola. “Tersangka penyedia jasa pornografi dikenakan Pasal 30 jo Pasal 4 Ayat 2 UU Nomor 44 Tahun 2008,” tutur Dwi. ”Tuntutan hukuman maksimalnya 10 tahun,” imbuhnya. Lalu, lanjut Dwi, untuk kelompok tersangka kedua yakni yang berperan sebagai penari striptis dikenakan Pasal 36 jo Pasal 10 UU Nomor 44 Tahun 2008.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakut AKBP Nasriadi mengatakan, pengungkapan bermula dari penyelidikan tentang adanya pesan siaran akan digelarnya event The Wild One yang isinya pesta seks kaum pria pencinta sesama jenis yang digelar Minggu (21/5) pukul 19.30 WIB. Ketika diselidiki, ternyata benar adanya.

“Fasilitas disiapkan di lantai satu berupa fitness, lantai dua show striptis oleh empat pemain, serta di lantai tiga ada spa para homo, tempat berendam juga di situ,” bebernya.

Dari 141 orang itu, sepuluh di antaranya dijadikan tersangka. Mereka adalah Christian Daniel Kaihatu (40) selaku pemilik tempat usaha, Nandez (27) selaku resepsionis dan kasir. Kemudian pemberi honor sekaligus sekuriti yakni Dendi Padma Putranta (27) dan Restu Andri (28). Keempatnya dikenakan Pasal 30 juncto Pasal 4 Ayat (2) tentang Pornografi.

Enam tersangka lainnya dijerat Pasal 36 juncto Pasal 10 Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pornografi. Mereka adalah Syarif Akbar (29), pria kelahiran Bogor, 30 April 1987, itu merupakan penari striptis (stripper) yang ditangkap bersama Bagas Yudhistira (27). Selain itu, polisi juga menangkap tamu yang diduga melakukan prostitusi. Mereka adalah Roni (30), Tommy Timothy (28), Aries Suhandi (41), dan Steven Handoko (25).

Selain pelaku, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti. Mulai dari kondom, penutup mata seperti topeng, speaker, kipas, dan tisu basah. Kemudian ada juga lotion tubuh hingga gelang loker para pengunjung. Polisi juga menyita tiket, rekaman CCTV, izin usaha, sejumlah uang, kasur, iklan event The Wild One dan sejumlah handphone.

Nasriadi mengatakan, dalam pengungkapannya, ruko itu telah dipantau sejak dua pekan lalu. Hal ini berdasarkan laporan warga yang resah dengan perbuatan mereka. “Jadi, itu (buka) setiap hari, tapi yang ada event Sabtu dan Minggu,” kata Nasriadi.

Dari informasi yang didapat, kata dia, fitness itu telah buka dan beroperasi sejak tiga tahun lalu. Awalnya mereka hanya menggelar striptis di tempat itu. Aksi mereka pun hanya dilakukan secara terbatas.

Dia menjelaskan, setiap stripper diberikan honor berbeda-beda. Mantan Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur itu mengungkap, junior stripper setidaknya mendapat honor sebesar Rp700.000 sedangkan senior stripper mendapat honor hingga Rp1.200.000 per kali tampil. “Uang itu dibayarkan ke pengelola kepada stripper,” tukas dia.

Komentar Anda

Baca Juga