Beranda Berita Utama

MUI: Aparat Harus Tegas!

BERBAGI

BOGOR–Gerakan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) sudah ‘men jajah’ hampir selu ruh provinsi dan kota di Indonesia. Data terakhir Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa terdapat 1.095.970 lelaki berhubungan seks dengan lelaki (LSL) alias gay yang tersebar di semua daerah.

Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah LSL terbanyak. Sebanyak 300.198 orang yang terindikasi merupakan gay. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.895 orang merupakan penderita HIV/AIDS. Sementara itu, Jawa Tengah memiliki penderita gay dengan jumlah 218.227. Dari jumlah itu, sebanyak 11.951 orang terindikasi merupakan penderita HIV/AIDS.

Bagaimana dengan Bogor? Sebanyak 2.672 pria Bogor merupakan gay. Dari ribuan gay itu, sebanyak 1.772 orang diduga menderita HIV/AIDS.

Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor, KH Mustofa Abdullah Bin Nuh, keberadaan gay tidak bisa ditoleransi dengan apa pun. Selain norma agama yang sudah jelas dicoreng, praktik tersebut juga melanggar norma sosial dan budaya Indonesia. “Kami benar-benar mengecam tindakan tersebut. Tentu aparat hukum harus bertindak tegas. Karena ini betul-betul sudah melanggar norma agama dan norma sosial budaya kita,” ujarnya kepada Radar Bogor kemarin (22/5).

Selain bertolak belakang dengan ajaran agama Islam. Menurutnya, perzinaan homoseksual tingkatannya lebih parah dari perzinaan biasa. Apalagi, homoseksual bertolak belakang dengan budaya Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan diberlakukannya aturan mengenai larangan perkawinan sejenis. “Kalau soal budaya kita kan mengagungkan budaya perkawinan bukan perzinaan, apalagi perzinaan yang tingkatannya parah. Karena Tuhan menciptakan manusia untuk melestarikan keturunan. Kalau homoseksual mana bisa,” paparnya.

Dia pun berpesan kepada seluruh orang tua agar mengawasi buah hatinya. Menurutnya, hal yang sudah pasti menjauhkan homoseksual dari diri manusia adalah ilmu. Ilmu yang dimaksudnya merupakan pengetahuan mengenai perbedaan mana perilaku yang bermanfaat ataupun merugikan. “Ilmu yang bermanfaat dengan membedakan mana yang baik dan yang tidak. Bukan sekadar ilmu-ilmuan. Ilmu yang benar- benar bermanfaat yang benar- benar mengantarkan kita pada kebaikan,” ucapnya.

Meskipun sebagian besar orang menganggap homoseksual sebagai penyakit, tapi menurut pria yang akrab dipanggil Kiai Toto itu, homoseksual bisa disembuhkan jika ada keinginan dari diri penderitanya. “Sebagai sesama manusia kita harus menyadarkan. Kalaupun ada yang bilang ini penyakit, penyakit kan bisa disembuhkan,” tukasnya.

Psikolog Tika Bisono membenarkan hal itu. Dia menilai perilaku LGBT dapat disembuhkan. Namun, lama tidaknya penyembuhan perilaku itu tergantung dari kondisi gangguan atau penyimpangannya. Menurutnya, ada dua cara penyembuhan. Pertama, terapi psikologi untuk mereka yang terpengaruh karena lingkungan. Dan, kedua, untuk mereka yang mengaku karena hormon kemungkinan masih dapat disembuhkan dengan terapi hormon. “Jadi, kalau lingkungan bisa terapi secara psikologis, dan kalau hormon bisa terapi secara hormonal di rumah sakit,” ujarnya.

Tika mengatakan, kemungkinan mereka yang memiliki penyimpangan karena hormon bisa disembuhkan. Namun, itu memerlukan upaya agar mereka tidak berada di tengah-tengah lagi. Kata dia, transgender itu salah satunya, dan kalau memang ingin berubah, dapat dilakukan secara klinis kalau hormonnya benar- benar menunjang. “Banyak yang terapi hormon. Kalau mau memilih salah satu, yaitu terapi hormon,” ucapnya.

Berdasarkan terapi tersebut, untuk kesembuhan lama atau sebentar, tergantung dari kondisi gangguan atau penyimpangannya. Banyak yang bisa diluruskan kembali, terutama mereka yang berada di persimpangan. Jadi, kata Tika, nantinya mereka tidak bingung lagi berada di tengah- tengah.
Tika juga menjelaskan, banyak perilaku LGBT lebih banyak terjadi karena salah bergaul dan kebiasaan daripada masalah hormon. Untuk dapat menyembuhkan mereka, perlu dilihat berapa lamanya (berperilaku LGBT), tergantung dari gaya hidup mereka. “Kemudian, orang tersebut bersedia diberikan terapi atau tidak?” katanya.

Ia menerangkan, psikoterapi terkait LGBT sudah ada ratusan tahun. Di Indonesia, sudah cukup banyak yang dapat melakukan terapi hormon. Ada yang kembali dan memilih tidak di persimpangan lagi.(cr3/ don/c)

Baca Juga