Beranda Female

Jika Anak Sekolah Terlalu Dini Pusat Perasaan Berkembang Paling Pesat

BERBAGI

Sebagian orang tua senang jika anaknya pandai calistung (membaca, menulis dan berhitung) pada usia dini. Apalagi jika sudah masuk ke sekolah dasar. Padahal, kebutuhan anak pada usia 0-8 tahun adalah bermain dan terbentuknya kelekatan.

UMUMNYA, sebagian besar orang tua beranggapan otak anak usia dini seperti spons . Artinya, ini masa yang tepat untuk menanamkan ilmu agar anak tumbuh cerdas. Akhirnya timbul keyakinan umum, jika semakin dini disekolahkan, otak anak semakin berkembang. Sehingga ada orang tua yang menyekolahkan anaknya sedini mungkin. Bahkan, ada yang memasukkan prasekolah di usia anak satu setengah hingga dua tahun.

“Mari kita bercermin, apakah kita begitu meyakini bahwa anak harus segera pintar agar siap menghadapi persaingan zaman?” kata psikolog ternama, Elly Risman.

Menurut psikolog dari Yayasan Buah Hati ini, orang tua juga harus bercermin apakah kita disiapkan menjadi orang tua? Apakah memiliki bekal yang cukup dalam mengasuh atau bagaimana inner child diri kita ? “Betapa kita disiapkan menjadi ahli namun tidak disiapkan menjadi orang tua, sehingga tidak punya kesabaran dan endurance untuk jadi orang tua,” bebernya.

Alih-alih ingin anak pintar, lanjut Elly, ilmu yang kita miliki sebagai orang tua untuk mengasuh pun serbatanggung. “Ilmu yang setengah-setengah, berujung pada keyakinan yang salah. Sayangnya, keyakinan salah ini dapat berubah menjadi keyakinan yang justri salah pada sekelompok orang,” jelasnya.

Menurut Elly, jika orang tua tidak memiliki kemampuan berpikir yang baik, keyakinan yang salah akibat ilmu serbatanggung itu jadi pembenaran bersama atas keputusan yang keliru.

“Pintar itu ada waktunya. Karena yang berkembang adalah pusat perasaan, anak usia dini harus jadi anak yang bahagia bukan jadi anak yang pintar,” tambahnya.

“Lalu, timbul pemikiran lain. Kan di sekolah belajarnya sambil bermain, kan anak perlu belajar sosialisasi, kan anak jadi belajar berbagi dan bermain bersama,” bebernya. Padahal, kata Elly, anak usia dini belum perlu belajar sosialisasi dengan beragam orang. Saat anak di usia dini, lanjutnya, otak anak yang paling pesat berkembang adalah pusat perasaannya bukan pusat berpikirnya.(pia)

Baca Juga