Beranda Metropolis

300 Kios Blok B tak Diminati

BERBAGI
TAK DIMINATI: Deretan Kios dan los pedagang
di Blok B1 Pasar Kebon Kembang tutup lantaran
tidak diminati pedagang, kemarin (19/5). Selain
sepi pembeli, maraknya PKL membuat pedagang
tak berani berjualan.

BOGOR–Keputusan PT Mulyagiri KSO Maya Saribakti Utama untuk menjadi investor Blok F Pasar Kebon Kembang, tampaknya, harus dipikirkan kembali matang-matang. Sebab, nasib mereka bisa saja seperti PT Javana Arta Perkasa, pengelola Blok B1 dan B2, yang kesulitan menjual kios dan los untuk pedagang. Tercatat, ada 300 kios dan los yang kosong. Alasannya sederhana, sepi pembeli. Padahal, dua blok ini belum lama direvitalisasi dan masih berkondisi bagus.

Marketing PT Javana Arta Perkasa mengatakan, ada sekitar 20 persen kios di Blok B1 dan B2 Pasar Kebon Kembang yang kini belum terjual. “Artinya, ada sekitar 300 kios dari 2.000 kios dan los yang belum terjual,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Meski bangunan tersebut tampak sepi, menurutnya, tak melulu setiap kios yang tutup tak berpemilik. Ia mengatakan, ada beberapa kios yang memang tutup, tapi secara kemilikan sudah dimiliki pedagang. “Kan ada juga yang tutup tapi bukan punya kita, ada yang sudah dibeli tapi tidak dibuka oleh pemiliknya,” terangnya.

Pihaknya pun menyambut baik niatan Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD-PPJ) yang sempat menyatakan ingin merelokasi pedagang kaki lima (PKL) Dewi Sartika ke dalam pasar. Menurutnya, penertiban sudah seharusnya dilakukan PD-PPJ agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial antarpedagang.
“Kalau memang mau dimasukkan semua menurut saya bagus, pemerataan. Kalau masih ada yang di luar, pembeli pasti lebih pilih yang di luar. Kalau semua masuk, semua rata, orang tidak akan cari di luar,” paparnya.

Terpisah, Direktur Utama PD- PPJ Andri Latif mengapresiasi langkah PT Javana Arta Perkasa yang menyediakan kios dengan harga sangat murah untuk PKL Dewi Sartika. Hanya, PKL tersebut tetap lebih memilih berjualan di pinggiran jalan. “Pihak Javana sudah berani menyewakan kios itu dengan harga sangat murah. Karena kita sudah menawarkan kios mulai dari Rp1 juta sampai Rp1,5 juta per bulannya. Murah sekali untuk sewa di situ, tidak usah beli,” terangnya.

Namun, banyak kendala yang dihadapi untuk memindahkan para PKL ke dalam pasar. Salah satunya, para PKL sudah kadung nyaman dengan kondisi yang berkenaan langsung dengan calon konsumen. Belum lagi, dikarenakan menjelang bulan Ramadan yang kerap kali meningkatkan arus jual beli komoditas. “Orang memang pengennya dagang di jalan karena lebih dekat dengan konsumen. Tapi, dagang di jalan, selain melanggar juga mengganggu ketertiban umum,” ujarnya.

Padahal, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Satpol PP Kota Bogor untuk menindak para PKL yang kerap kali membuat lalu lintas jalan tersendat. “Kami sudah sampaikan kepada Satpol PP,” kata Andri.

Menanggapi kekosongan kios Blok B1 dan B2 Pasar Kebon Kembang, menurutnya, akan dijadikan tempat penampungan sementara pada pedagang Blok F ketika bangunannya direvitalisasi. “Kami sudah sepaham, tem pat penampungan sementara tidak ada yang dilakukan di pinggir jalan, bakal ditempatkan di blok B1 dan B2 ataupun Blok A. Tidak ada berantakan di luar,” tandasnya.(cr3/c)

 

Baca Juga