Beranda Metropolis

Tarif Angkot Ditentukan Sopir

BOGOR–Meski pengaturan ulang rute atau rerouting angkutan kota (angkot) telah dua hari diberlakukan, hingga kini Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor belum menentukan tarif baru. Kondisi itu membuat sopir angkot mematok tarif seenaknya. Ada yang Rp5.000 hingga Rp6.000 sekali jalan. Itu berlaku untuk rute Transpakuan (TPK) 2 Ciawi–Terminal Bubulak (via Baranangsiang) dan TPK 3. Padahal, tarif normalnya hanya Rp3.500.

Ketua DPC Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Bogor, Moch Ishack menilai, idealnya, Pemkot Bogor harus menentukan tarif sementara sebagai patokan. Seharusnya, sebelum rute TPK 2 dan TPK 3 Ciawi Terminal Bubulak (Via Lawanggintung, Suryakencana) diterapkan, Dishub Kota Bogor terlebih dulu menghitung tarifnya. Jadi, masyarakat dan sopir angkot tidak kebingungan. “Bisa juga pakai tarif
sementara. Yang pasti, sopir maupun penumpang pada mengeluh. Karena si sopir juga bingung mau mengenakan tarif berapa. Terlalu rendah rugi, terlalu tinggi juga penumpang keberatan,” jelasnya kepada Radar Bogor kemarin (17/5). Menurutnya, Dishub Kota Bogor sebaiknya melibatkan Organda Kota Bogor dalam perumusan tarif ke depan. Sebab, kegiatan apa pun yang menyangkut transportasi, khususnya angkot, perlu melibatkan pengusaha. “Kalau
mengadakan tarif sementara kita hitung bersama-sama, supaya sopir tidak bingung,” ucapnya. Selain itu, menurut Ishack, berdasarkan kejadian yang sudah-sudah, Pemkot Bogor selalu memberikan subsidi untuk operasional terkait program baru. Sebab, setiap pelaksanaan program anyar butuh adaptasi yang mengakibatkan sepinya penumpang. “Biasanya program baru diberi subsidi operasional untuk bensin. Karena
masyarakat belum tahu juga, jadi sepi penumpangnya. Kalau sekarang tidak ada,” ujarnya. Akibatnya, ada beberapa sopir TPK 2 dan TPK 3 yang terpaksa tidak beroperasi karena merasa pendapatannya menurun. Selain itu, ada beberapa sopir yang beroperasi tidak sesuai rute yang baru. “Akibat penggantiannya tidak sekaligus, mereka muter seenaknya. Banyak juga yang tidak narik karena sepi,” tuturnya. Kondisi tersebut tak ditampik Kasi Angkutan Dalam Trayek Dishub Kota Bogor, Ari Priyono. Menurutnya, masih ada beberapa sopir TPK 2 dan TPK3 yang tidak beroperasi di rute yang baru. Salah satu alasannya, rute baru tersebut terlalu panjang karena lebih dari 12 kilometer. “Masih belum maksimal karena banyak sopir yang berputar pada rute lama.
Kebanyakan mereka tidak sampai di Terminal Bubulak, tapi hanya sampai Terminal Laladon,” ucapnya. Mengenai tarif, pihaknya segera melakukan kajian. Jika tidak ada kendala, tarif TPK 2 dan TPK 3 ditentukan pekan depan. Karena itu, pihaknya mengimbau agar kenaikannya
tidak melebihi dua kali lipat dari tarif normal. “Kemungkinan minggu depan sudah dikeluarkan Surat Keputusan (SK) mengenai tarif TPK 2 dan TPK 3. Karena masih banyak warga dan sopir yang belum bisa menetapkan tarif untuk dua jalur yang sudah aktif,” tandasnya.(cr3/c)

Baca Juga