Beranda Berita Utama

Korban Study Tour Maut tak Menuntut

BERPULANG: Jenazah Sarifah Nurjanah (18) saat dikebumikan di dekat kediaman keluarga, Kampung Sangkali, Desa Sukahati, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, kemarin (17/5). AZIZ/RADAR BOGOR

BOGOR–Tangis haru pecah me nyambut keda- tangan jenazah Sarifah Nurjanah (18), salah se orang korban kecelakaan maut rombongan bus wisata siswa SMK Panca Karya Bogor, di Jalan Raya Magelang-Salatiga, Mage lang, Jawa Tengah, Selasa (16/5).

Jenazah tiba di rumah duka, Kampung Sangkali, Desa Sukahati, Kecamatan Citeureup, pukul 06.30 WIB menggunakan ambulans Rumah Sakit Umum (RSU) dr Soedjono.

Pantauan Radar Bogor, jenazah dimakamkan di area tanah milik keluarga, tepat di depan kediaman mereka, sekitar pukul 08.00 WIB. Ayah korban, Asep Supriadi mengaku pasrah dengan musibah tersebut. Perjalanan hidup sang buah hati telah ditentukan Yang Maha Kuasa. Karenanya, Asep tak akan melakukan upaya hukum. “Saya pasrah. Tak perlu menuntut siapa pun,” ujarnya.

Kepergiaan Sarifah juga menyisakan kesedihan pada para sahabatnya di sekolah SMK hingga SMP Arridho, Tengsau Citeureup. Sejak pagi, kata Asep, para sahabatnya di SMP dan SMA berduyun-duyun datang untuk bertakziah. “Mereka datang sambil patungan untuk penyelenggaraan doa anak saya,” tuturnya.

Tak sekuat sang ayah, ibu korban, Iyum Rusilah (60) alias Umi masih terkapar di ranjangnya, lantaran belum kuat menerima kenyataan kepergian sang buah hati. Hingga saat jasad tiba, Umi hanya menangis di ranjangnya sambil mengucap doa.

“Istri saya masih sakit. Tiduran di kasur. Maaf belum bisa diganggu,” terang Asep.

Suasana duka tak hanya menyelimuti kediaman Sarifah. Di Kampung Leuwijambe RT 04/03, Desa Kadumanggu, Kecamatan Babakanmadang, keluarga juga menunggu kepulangan jenazah Rendi Ferdiansyah (18), yang juga korban meninggal di kecelakaan maut tersebut.

Eni Ernawati, ibu kandung korban, tak kuasa menahan tangis. Perempuan yang dikenal pendiam ini tiba-tiba saja berontak. Ia berteriak saat peti jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 07.00 WIB kemarin.

Ratusan warga mengenakan baju putih berdatangan melayat. Erni berulang kali pingsan, dan duduk di samping jasad anak sulung tercintanya. Mudrudih (52) orang tua Eni, mengatakan, kondisi Eni masih tak terima anaknya meninggal.

Kata Mudrudih, Eni meminta anaknya dimakamkan di TPU Kadumanggu. Tepatnya di samping almarhum ayah Rendi.

Lokasinya tak jauh dari rumah Eni. “Rendi teh tos yatim ti umur 10 tahun, abis Arini lahir bapakna Emon S bin Enduh meninggal (Rendi sudah yatim sejak umur 10 tahun, setelah Arini lahir, bapaknya Emon S bin Enduh meninggal dunia),” ungkapnya.

Usai pemakaman Rendi, sekitar pukul 13.00 WIB, jenazah Mita Sumiati tiba di rumah duka Kampung Banceuy RT01/05, Desa Citaringgul. Kedatangan iring-iringan penggotong jenazah di Gang Melati itu membawa jasad putri pertama Sumitra (52) dengan Nurmilla (48). Seluruh warga dan teman rumahnya turut mengantar.

Almarhumah memiliki kakak laki-laki, Heli Gumilar (26) dan adik perempuan yang masih duduk di bangku SMP, Dea Sulastri. Tak ada firasat sebelum kepergian gadis kelahiran 26 Mei 1998 itu.

“Dia anaknya baik, tidak pernah keluar malam, selalu belajar dan ingin meneruskan sekolah sambil bekerja di tempat jauh,” kata Sumatri.(azi/ don/d)

AZIZ/RADAR BOGOR
BERPULANG: Jenazah Sarifah Nurjanah (18) saat dikebumikan di dekat kediaman keluarga, Kampung Sangkali, Desa Sukahati, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, kemarin (17/5). (KEPSION)

 

DONI/RADAR BOGOR
PERIKSA: Petugas gabungan memeriksa kondisi bus yang akan digunakan para siswa untuk study tour, kemarin (17/5). (KEPSION)

 

Baca Juga