Beranda Berita Utama

Abah Dahlan dan Kreativitas yang Dihukum

BERBAGI

 

PADA 7 Mei 2017, Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Mu hammadiyah menggelar Apel Akbar ”Meng gem bira- kan Kemanusiaan” dan Ke siapsiagaan Bencana di Gre sik, Jawa Timur. Apel yang dihadiri lebih dari 5 ribu personel Kokam Jawa Ti mur tersebut memang me letihkan karena harus ber kawan dengan panas.

Namun, keletihan itu agaknya terlupakan dengan semangat yang menggembirakan dari ribuan anggota Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) yang hadir.

Kegembiraan saya bertambah karena seusai apel akbar Kokam, saya dan kawan-kawan Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur berkesempatan bersilaturahmi dengan Abah Dahlan alias Pak Dahlan Iskan di kediamannya di Surabaya. Saya dan kawan- kawan disambut hangat oleh Abah Dahlan. Ternyata beliau tidak berubah. Tetap energik. Ramah. Tanpa babibu, Abah langsung mengajak kami makan siang. Masakan istri saya lho, kata beliau, sambil membagikan piring satu per satu.

Setelah makan siang, obrolan pun mengalir. Sambil ditemani kudapan pisang goreng khas Samarinda buatan istri beliau. Mulai cerita tentang keluarga sampai kasus yang sedang menjerat beliau. Mendengar kasus Abah Dahlan, saya teringat dengan satu kalimat yang rajin digunakan dalam perdebatan terkait kasus Bank Century: kebijakan tidak bisa dikriminalkan. Abah Dahlan agaknya dikriminalkan karena kebijakan yang sama sekali tidak menguntungkan beliau secara pribadi, apalagi keluarga. Tapi, entahlah temuan jaksa seperti apa. Saya hanya berpraduga dan menilai dari cerita Abah Dahlan. Tentu ini subjektif sekali, ini rasa kebatinan pribadi saja.

Ada adagium yang populer di dunia akuntansi, yakni ”kreatif bukan kriminal”. Kreativitas melakukan akrobat angka selama masih sesuai dengan standar akuntansi dan tidak melakukan tindak kriminal, it’s OK. Meskipun menabrak standar moral. Nah, kalau masalah ini bergantung standar moral masing-masing. Atau bila dalam keprofesian disebut sebagai etika profesi. Standar etika itu yang tiap-tiap individu berbeda-beda. Dan sayangnya, standar etika pejabat publik serta politisi kita rendah sekali.

Namun, dalam kasus Abah Dahlan, kreativitas dan inovasi yang menjadi genetika seorang wirausahawan tangguh harus berhadapan dengan upaya kriminalisasi. Dicari sekecil apa pun kesalahannya. Di sisi lain, banyak pejabat atau politikus, yang sudah terang maling uang rakyat dan terang indikasinya, karena memiliki jejaring kekuasaan, jamaah partai yang kuat, sulit sekali dijerat dengan alasan belum cukup bukti materiil dan sebagainya. Bahkan bersembunyi di balik diskresi, padahal terang diskresi tersebut melanggar hukum dan indikasinya jelas. Tapi, bagi Abah Dahlan, tidak ada diskresi-diskresian. Meski itu penuh dengan kreativitas dan upaya melakukan perbaikan. Bahkan, mungkin akan dicari kasus-kasus baru yang bisa menjerat beliau sampai bisa dipenjarakan.

Dalam perbincangan saya dengan Abah Dahlan dan apa yang beliau alami, terang kreativitas berusaha dimatikan ketika kreativitas itu membahayakan kekuatan modal dan kuasa lain. Pikiran saya pun langsung menerawang, ini yang dimaksud dengan akrobat ketidakadilan nan norak. Bahkan, dalam perbincangan itu, Abah Dahlan sempat menyampaikan, ”Mas Dahnil, kalau KPK yang menetapkan saya jadi tersangka dan saya memang korupsi, saya sendiri yang jalan ke penjara. Tapi, dalam kasus yang disang- kakan jaksa kepada saya, tidak satu pun terkait dengan uang negara atau daerah yang mengun- tungkan saya atau orang lain dan saya yakin dengan hal itu.”

Namun, meski dirundung masalah hukum, gelora kreativitas dan keinginan Abah Dahlan untuk memberikan kontribusi kepada Indonesia agaknya tetap menggebu. Abah Dahlan sempat menunjukkan kepada saya mobil listrik yang baru tiba di rumahnya. Yang langsung beliau beli dari Amerika Serikat untuk membuktikan kepada publik bahwa industri mobil Indonesia harus sudah mulai bergerak ke industri mobil listrik. Seperti yang pernah beliau coba tawarkan ketika masih menjabat menteri BUMN. Meskipun mendapat cercaan dari berbagai pihak yang tidak senang dengan upaya tersebut.

Abah ternyata tidak puas hanya menunjukkan. Saya diminta beliau menjadi orang pertama yang menyetir mobil yang baru beliau beli tersebut. Tentu dengan senang hati saya lakukan test drive ditemani beliau.

Akhirnya saya hanya berharap tidak ada lagi kreativitas- kreativitas berkemajuan yang terkubur mati hanya karena kepentingan politik, dendam, dan persaingan usaha tidak sehat. Negara harus menyediakan tanah subur untuk kreativitas-kreativitas yang berkemajuan. Tidak kalah oleh kuasa politik dan dendam politik maupun bisnis yang tak berkesudahan itu.

Di tengah kesusahan karena kasus hukum, semoga Abah Dahlan tetap tegar. Setegar Mbah Kiai Ahmad Dahlan ketika hadir menawarkan kebaharuan- kebaharuan yang berkemajuan untuk peradaban Indonesia satu abad yang lalu.(*)

Baca Juga