Beranda Metropolis

Ketika 31 Komunitas di Bogor Berkumpul Hasilkan Buku Bogor Hujan Komunitas

BERBAGI
RILIS BUKU: Gabungan 31 komunitas di Kota Bogor merilis buku Bogor Hujan Komunitas.

Komunitas di Bogor memiliki banyak cerita. Sayangnya, informasi tentang mereka masih sepenggal-sepenggal. Gabungan 31 komunitas di Bogor pun mengambil inisiatif untuk membuat buku tentang komunitas warga Bogor dengan judul, Bogor Hujan Komunitas.

Laporan: WILDA WIJAYANTI

BICARA komunitas, ada banyak tersebar di Kota Hujan dengan minat dan ketertarikan yang beragam. Lewat komunitas, baik tua maupun muda serasa memiliki teman baru. Namun, dengan begitu banyaknya komunitas, sudahkah Anda mengenal mereka? Nah, dari sinilah lahir ide membuat buku

Bogor Hujan Komunitas.
“Dalam buku ini ada 31 komunitas yang terlibat, diwakili oleh satu orang dan tugas mereka adalah menuliskan cerita tentang komunitasnya. Isinya mulai dari sejarah, latar belakang, tujuan dan harapan ke depannya,” ungkap Ketua Tim Divisi Penulisan Bogor Hujan Komunitas, Cinthya Karina.

Kenapa buku? Karena dengan buku, sebuah karya menjadi abadi. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah”. Apalagi, tak semua komunitas terbiasa menulis tentang komunitasnya. Maka, sambung Cinthya, proses pembuatan buku diawali dengan workshop menulis Januari lalu. Sekaligus untuk menjaga kualitas tulisannya sendiri.

“Perlu diadakan workshop, agar kami memiliki satu pandangan yang sama, karya seperti apa yang akan kami buat. Dibantu mentor juga fasilitator, hingga di akhir pertemuan workshop sudah ada karya masing-masing komunitas. Sebenarnya konsepnya enggak terlalu memasang peraturan. Yang jelas, isinya ada empat konten, antara lain sejarah dan tujuan,” jelas Cinthya.

Komunitas apa saja yang ada di dalam buku Bogor Hujan Komunitas? Kata Cinthya, adalah mereka yang bergerak di bidang pendidikan, literasi, lingkungan, sosial, juga seni budaya. Lantas, mengapa masyarakat luas harus tahu dan memiliki buku ini? “Karena masyarakat harus tahu bahwa di Bogor ini ada anak-anak yang tulus bekerja, mereka bergerak tanpa mengharapkan apa pun untuk kebaikan orang banyak,” kata dia.

Secara proses, dikatakan Cinthya, butuh lima bulan lamanya hingga hadirlah buku tersebut. Gagasan awalnya pada Desember 2016, kemudian mulai menyusun rancangan pada Januari. Menjadi buku yang pertama membuat cerita komunitas di Bogor, besar harapan akan ada buku-buku selanjutnya.

“Kendalanya cukup banyak, karena kami enggak meng- gunakan tenaga profesional awalnya. Kegiatan komunitas kan adalah kegiatan lain dari aktivitas kita sehari-hari. Kendalanya adalah bagaimana kita membagi waktu untuk bisa tetap fokus, meluangkan waktu sebisa mungkin,” cetusnya.

Pesan Cinthya, seperti jati diri komunitas, untuk terus bergerak dengan hati yang tulus dan sukarela. Sebab, pada saatnya nanti akan ada pihak yang melihat dan merangkul. Kalian tidak bergerak sendirian.(*/c)

Baca Juga