Beranda Berita Utama

13 Tahun Rumah Sakit Bogor Medical Center (BMC) Berkiprah di Kota Bogor (1) Cath Lab Pertama di Kota Bogor

BERBAGI
CANGGIH: Direktur RS BMC, DR. dr. Hendro Darmawan, MSc, SpJP, FIHA (dua dari kiri) di Cath Lab Rumah Sakit Bogor Medical Center.

Cath Lab atau disebut ruang kateterisasi jantung dan otak menjadi fasilitas kesehatan yang sangat penting. Mengingat kasus jantung koroner di Kota Bogor yang bersifat emergency begitu tinggi mengalahkan kasus kanker dan lainnya. Terlebih, penyakit ini bisa menyebabkan kematian lantaran serangan mendadak. Nah, untuk mengatasi persoalan tersebut, Rumah Sakit Bogor

Medical Center (BMC) berinisiatif membangun Cath Lab pertama di Kota Bogor. Seperti apa Cath Lab tersebut?

MEMASUKI usia ke-13 pada 6 Mei 2017, Rumah Sakit Bogor Medical Center (RS BMC) terus memberikan pelayanan terbaik dengan pelayanan unggulan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kedokteran terkini. Salah satunya melalui sarana kateterisasi (Cath Lab) untuk jantung dan otak yang resmi dibuka 1 Maret 2016 lalu.

Direktur RS BMC, DR. dr. Hendro Darmawan, MSc, SpJP, FIHA mengatakan, selain Cath Lab, keunggulan lainnya adalah endoskopi. “Endoskopi intervensi juga menjadi satu- satunya di Kota Bogor dengan didukung Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastro Enterologi Hepatologi. Ada pula hemodialisa atau cuci darah untuk kelainan ginjal kronik,” ujarnya.

Keunggulan-keunggulan tersebut menurut dr Hendro, sesuai visi RS BMC. “Dari Bogor untuk Bogor. Masak orang Bogor berobatnya ke Jakarta,” sambungnya. Contohnya, kata dr Hendro, pasien asuransi, BPJS Kesehatan, untuk tindakan kateterisasi dulu dikirim ke Jakarta. Namun, di Jakarta waiting list-nya mencapai enam bulan. “Dengan adanya Cath Lab di RS BMC pasien cepat dilayani,” kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah tersebut.

Di RS BMC sendiri, menurutnya tidak ada waiting list. Dalam satu bulan, rumah sakit yang berlokasi di Jalan Pajajaran Indah V No 97 Kota Bogor, ini melayani lebih dari 30 pasien Cath Lab. Melihat fasilitas, dr Hendro menargetkan sebanyak 50 pasien.

“RS BMC sudah menjadi rujukan penyakit jantung di Kota Bogor oleh BPJS Kesehatan. Jadi, dari layanan primer bisa langsung dirujuk ke layanan sekunder di BMC,” paparnya.

Hendro menuturkan, sebelum ada Cath Lab, penderita jantung koroner harus menjalani operasi. Tapi, kini dengan teknologi di Cath Lab tidak perlu lagi operasi. Hanya sehari langsung diperbolehkan pulang, sehingga recovery menjadi lebih cepat.

Sementara itu, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Rifnaldi, SpJP(K), FIHA menambahkan, tindakan kateterisasi jantung terbagi dua. Ada yang dikhususkan untuk kasus emergency dan ada juga kasus elektif atau direncanakan.
“Kalau ada pasien yang mengeluhkan sakit dada tapi masih ringan, biasanya dilakukan kateterisasi jantung untuk melihat seberapa berat sumbatan di jantungnya. Kemudian baru direncanakan, untuk pemasangan ring sesuai jadwal untuk kasus elektif,” bebernya.
Berbeda dengan kasus emergency, sambung dr Rifnaldi, tim Cath Lab siap melayani selama 24 jam. Cath Lab sendiri diakuinya, bisa digunakan untuk diagnostik dan terapeutik. Diagnostik berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada pembuluh darah jantungnya sedangkan tindakan kateter terapeutik, artinya tindakan penyembuhan. Saat ini, Cath Lab RS BMC sudah dapat melakukan pemasangan ring atau stent, pemasangan pacu jantung, koil jantung, penarikan cairan dari selaput rongga jantung dan pemasangan alat pada rongga jantung,” jelasnya.
Khusus pemasangan ring, menurut dia, dilakukan bagi pasien dengan penyempitan pembuluh darah jantung di atas 50 persen. Jika masih di bawah 50 persen, dapat dilakukan optimalisasi obat terlebih dahulu. Barulah dievaluasi selama beberapa bulan kemudian. Jika ada perbaikan, maka pemasangan ring tidak dilakukan. Lain hal jika hasil dari kateter diagnostik penyempitan lebih dari 50 persen indikasi untuk dilakukan pemasangan ring.
“Jantung koroner ini terjadi karena ada sumbatan di pembuluh darah koroner jantung. Dengan tindakan pemasangan ring, sumbatan seberat apa pun (paling berat buntu total oklusi) akan ditembus, lalu dikembangkan dengan balon, kemudian agar pembuluh dan pembuluh darah, dr Rifnaldi, SpJP(K), FIHA menambahkan, tindakan kateterisasi jantung terbagi dua. Ada yang dikhususkan untuk kasus emergency dan ada juga kasus elektif atau direncanakan.
“Kalau ada pasien yang mengeluhkan sakit dada tapi masih ringan, biasanya dilakukan kateterisasi jantung untuk melihat seberapa berat sumbatan di jantungnya. Kemudian baru direncanakan, untuk pemasangan ring sesuai jadwal untuk kasus elektif,” bebernya.
Berbeda dengan kasus emergency, sambung dr Rifnaldi, tim Cath Lab siap melayani selama 24 jam. Cath Lab sendiri diakuinya, bisa digunakan untuk diagnostik dan terapeutik.
Diagnostik berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada pembuluh darah jantungnya sedangkan tindakan kateter terapeutik, artinya tindakan penyembuhan. Saat ini, Cath Lab RS BMC sudah dapat melakukan pemasangan ring atau stent, pemasangan pacu jantung, koil jantung, penarikan cairan dari selaput rongga jantung dan pemasangan alat pada rongga jantung,” jelasnya.

Khusus pemasangan ring, menurut dia, dilakukan bagi pasien dengan penyempitan pembuluh darah jantung di atas 50 persen. Jika masih di bawah 50 persen, dapat dilakukan optimalisasi obat terlebih dahulu. Barulah dievaluasi selama beberapa bulan kemudian. Jika ada perbaikan, maka pemasangan ring tidak dilakukan. Lain hal jika hasil dari kateter diagnostik penyempitan lebih dari 50 persen indikasi untuk dilakukan pemasangan ring.

“Jantung koroner ini terjadi karena ada sumbatan di pembuluh darah koroner jantung. Dengan tindakan pemasangan ring, sumbatan seberat apa pun (paling berat buntu total oklusi) akan ditembus, lalu dikembangkan dengan balon, kemudian agar pembuluh darah tetap besar dilakukan dengan pemasangan ring,” paparnya.

Di sisi lain, terdapat banyak jenis ring. Ada diameter paling kecil 2,25 milimeter, sedangkan paling besar berukuran 3,5 atau 4 milimeter dan seluruhnya tersedia di RS BMC. Panjangnya pun mulai dari 10 milimeter hingga 38 milimeter. “Prosesnya tergantung kondisi pasien. Untuk kasus emergency, begitu dilakukan kateter langsung diketahui dan bisa dilakukan pemasangan ring saat itu juga. Namun, kalau kasusnya tidak emergency atau elektif tadi, tergantung tingkat keparahan sumbatannya,” tutur Rifnaldi.

Lama waktunya untuk kateter diagnostik waktunya cukup cepat yakni 5 menit selesai dengan bius lokal. Kalau tindakan pemasangan ring, biasanya pasien harus menjalani perawatan selama satu hari. Setelah perawatan usai pemasangan ring, pasien baru diperbolehkan pulang.

Setelah pemasangan ring, kata Rifnaldi, dipastikan kondisi kesehatan pasien akan kembali normal. Sebab, bius yang digunakan sifatnya lokal. Ring yang digunakan juga sudah diuji secara klinis bisa diterima oleh tubuh sehingga tidak menimbulkan efek samping. Setelah pemasangan ring biasanya tergantung ring-nya, jadi ada ring yang dilapisi dengan obat (drug eluting stent), ada juga yang tidak (bare metal stent),” sambungnya.

Kalau ring yang dilapisi dengan obat bertujuan agar tubuh pasien lebih mudah menerima ring, jadi reaksi penolakan badan minim sekali. Kalau ring tanpa obat, reaksi penolakan agak lebih lama.

“Untuk kedua kasus itu, setelah pemasangan ring kami berikan pengencer darah. Tergantung jenis ring yang dipasang. Biasanya pengencer darah diminum antara 6 bulan hingga 10 tahun,” kata dia lagi.
Menurut Rifnaldi, pemasangan ring dengan pelapis obat merupakan saran dari dokter, tergantung kondisi penyempitannya. Jika berat, maka dianjurkan ring yang menggunakan selaput obat.

Lebih lanjut dia menjelaskan, penyakit jantung koroner penyebabnya dari beberapa faktor resiko yang membuat sumbatan pembuluh darah jantung. Biasanya penderita adalah mereka yang menderita hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, perokok atau pasien jarang aktivitas olahraga. “Usia termuda yang kami tangani 28 tahun dan usia tertua yang pernah dipasang ring 81 tahun,” imbuhnya.

Selama satu tahun ini, pihaknya lebih sering menangani pasien dengan jenis kelamin laki-laki. Secara teoritis, jelas dr Rifnaldi, laki-laki yang terkena jantung koroner bisa lebih muda, sedangkan perempuan biasanya terkena saat menopause di atas 50 tahun. Sebab, kata dia, perempuan memiliki hormon estrogen yang sifatnya protektif.

“Karena itu Cath Lab sangat diperlukan di Kota Bogor. Pasien-pasien pun tidak perlu lagi harus jauh-jauh ke luar kota, misalnya di Jakarta,” katanya. Untuk biaya sendiri, diakuinya ter-cover dengan BPJS Kesehatan.

Keunggulan lain Cath Lab RS BMC antara lain, hingga kini merupakan pemeriksaan baku emas atau gold standar untuk menegakkan diagnostik kelainan sistem pembuluh darah kardiovaskular. Selain itu, tindakan intervensi invasif yang dilakukan di Cath Lab bersifat invasif minimal. Artinya, tidak memerlukan tindakan irisan bedah terbuka, tidak memerlukan bius umum, fase penyembuhan atau recovery yang relatif lebih singkat dibanding operasi jantung terbuka.(wil/ADV)

Baca Juga