Beranda Metropolis

Sosialisasi Blok F Diwarnai Walkout

BERBAGI

BOGOR–Pedagang Blok F Pasar Kebon Kembang kecewa berat dengan PT Mulyagiri KSO Mayasari Bakti. Mereka merasa tidak dihargai dan memutuskan untuk walkout (WO). Hal ini terjadi lantaran investor Blok F tersebut tidak hadir dalam sosialisasi revitalisasi blok F dengan pedagang, di aula Blok C–D Pasar Kebon Kembang, kemarin (4/5).

Wakil Paguyuban Pedagang Blok F Pasar Kebon Kembang, Edi menuturkan, dengan ketidakhadiran PT Mulyagiri KSO Mayasari Bhakti, membuktikan bahwa mereka tidak memiliki niat baik untuk membangun blok F. “Kalau Mayasari itu bisa dibilang tukang, yang mau ngebangun, harusnya dia konsekuen dengan apa yang dia sepakati dengan PD-PPJ. Soal sosialisasi ini, PD-PPJ harus benar-benar bertindak. Ini niatnya saja sudah jelek,” geramnya.

Pihaknya pun meminta kepada PD-PPJ untuk mencari investor yang benar-benar berkompeten dan mengerti pedagang. Terlebih, ada bukti soal pengembang yang telah melakukan praktik jual beli kios, padahal kios sendiri belum dibangun. “Soal penjualan kios sudah jelas bukti penjualan ada. Kami juga tidak menyetujui adanya rencana perubahan basement oleh investor,” bebernya.

Direktur Operasional PD-PPJ Syuhairi Nasution mengatakan, sosialisasi ini bukannya gagal. Ia sejatinya juga kecewa dengan pengembang yang tidak bisa datang tepat waktu, padahal sosialisasi dijadwalkan pukul 13.30. “Karena ini kan sedang kritis-kritisnya, harusnya ditetapkan jam 13.30 hadir, tapi ditunggu-tunggu enggak datang-datang,” ujarnya.

Pihaknya berencana akan menjadwal ulang sosialisasi revitalisasi blok F dengan pedagang. Sebab, seperti diketahui, PT Mulyagiri KSO Mayasari Bhakti sudah ditetapkan sebagai pemenang revitalisasi blok F. “Kalau dikatakan kecewa pasti pedagang kecewa. Saya sendiri juga kecewa kepada pengembang. Seharusnya mereka mengantisipasi jauh-jauh hari sebelumnya,” ucapnya.

Apakah PT Mulyagiri KSO Mayasari Bhakti akan dike- nakan sanksi atas keterlam- batan tersebut? Syuhairi mengaku sudah pasti ada. Tapi, bukan sampai sanksi untuk mengganti investor.

“Mengenai protes pedagang akan lantai dasar, sebetulnya yang bisa menjawab adalah pengembang, karena mereka memiliki konsultan perencana dan pengawas. Kami tidak punya kompetensi untuk menjawab itu. Adapun yang kami jelaskan adalah menurut yang kami pahami, atas apa yang dibuat di PD-PPJ,” jelasnya.

Intinya, lantai dasar versi PD- PPJ, kata Syuhairi, adalah yang sejajar dengan jalan raya. Itu yang pihaknya pahami, bukan basement. Jadi, kalau misalnya berada di bawah jalan raya itu basement, bukan lantai dasar. Kalau itu dianggap berada di atas jalan raya, itu bukan lantai dasar tapi lantai satu. “Itu kan runutan sudah ada sebetulnya. Kita jangan buru-buru men- judge mereka (pengembang, red) manipulasi, harusnya sama-sama dulu dengarkan penjelasan mereka,” beber dia.

Kemudian, soal kios yang sudah diperjualbelikan, kata Syuhairi, pihaknya mengaku belum mengetahui soal itu. Menyikapi itu, PD-PPJ akan mengundang pengembang terkait apa yang disampaikan pedagang.

“Kalau mereka sudah melakukan penjualan harusnya berkonsultsi dulu dengan kami.. Seyogianya kontraktor berkoor- dinasi dalam setiap kegiatan, kita harus mengawal harga mereka sesuai dengan PD-PPJ, terutama untuk pedagang eksisting yang jumlahnya ada 178 pedagang,” tukasnya.

Di sisi lain, Tim Perencana PT Mulyagiri KSO Mayasari Bhakti, Edi Darmawan mengungkapkan, terkait masalah lantai dasar kenapa tidak sama rata dengan Jalan Dewi Sartika, sudah dijelaskan bahwa terjadi split level atau tinggi permukaan Jalan Dewi Sartika dengan Nyi Raja Permas yang kurang lebih hampir dua meter. “Kami melihat terjadi perbedaan ketinggian antara kedua jalan ini. Makanya, kami memutuskan ini menjadi semi basement,” ucapnya.

Dengan adanya perubahan ini, sambungnya, semua lantai tidak akan terdampak banjir akibat kondisi curah hujan yang terus berubah-rubah. Sementara, lantai dasar untuk pedagang eksisting juga akan ditempatkan di lantai premium atau paling mahal. Lantai ini memiliki karakter tersendiri karena dibuat lebih tinggi, di antaranya supaya tidak terjadi genangan banjir.

“Dengan ditinggikan, lantai semi basement akan terhindar banjir apalagi yang lantai dasar. Di sisi lain, kalau misalnya dibuat lebih tinggi lantai dasar, secara estetika, itu jauh lebih baik. Toh kalau masalah pencapaian sama saja,” kata Edi.

Pihaknya juga mencoba bagai- mana caranya agar pertemuan pedagang dengan pembeli memberi rasa nyaman. Karena itu, antara lantai dengan plafon dibuat tingginya empat meter.

“Jadi, berhenti di posisi tiga meter, sisanya ada lowong difungsikan untuk sirkulasi udara panas saat pengunjung penuh. Kalau pengunjung penuh tidak akan pengap, ini yang berbeda,” tandasnya. (wil/c)

Komentar Anda

Baca Juga