Beranda Berita Utama

Badai Menggila di Puncak Pancaroba

REMUK: Mobil angkutan umum yang remuk akibat tertimpa pohon di Jalan Pancasan, RT 05/07, Pasirjaya, Kota Bogor, kemarin (4/5). KELIK/RADAR BOGOR

BOGOR–Badai terus menghantam hampir seluruh wilayah Jawa Barat, sepekan terakhir. Setelah memorak- porandakan Bandung, Rabu (3/5), kemarin giliran Bogor yang kembali diter- jang hujan deras dan angin kencang.

Sejumlah pohon besar tumbang dan di antaranya menimpa kendaraan dan rumah warga.

Informasi yang dihimpun, satu unit kendaraan remuk tertimpa pohon besar di Jalan Pancasan, RT 05/07, Pasirjaya, Kota Bogor. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun pohon yang melintang di badan jalan sempat menutup arus lalu lintas di sekitar lokasi. Petugas gabungan pun berjibaku mengevakuasi batang pohon di bawah guyuran hujan.

Kepala Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor Ganjar Gunawan mengatakan, sejak pukul 15.00 WIB, pihaknya terus mendapat laporan pohon tumbang. Selain di kawasan Pancasan, ada laporan serupa di kawasan Jalan Merak, Tugu Kujang, dan Taman Cimanggu. BPBD pun membagi tugas personelnya ke empat lokasi tersebut. “Seluruh petugas lapangan turun, baik yang piket dan lepas piket, ikut. Ada 21 orang,” kata dia.

Kepala Stasiun Klimatologi pada Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG) Bogor, Budi Suhardi, mengingatkan warga Bogor untuk tetap siaga dan waspada. Pasalnya, cuaca ekstrem seperti kemarin masih akan terus terjadi sepanjang Mei ini. Fenomena tersebut memang kerap terjadi pada musim transisi (pancaroba).

“Kalau dalam arti cuaca, angin puting beliung dengan kecepatan di atas rata-rata,” ujarnya kepada Radar Bogor kemarin (4/5).

Budi mengatakan, fenomena lain yang biasa muncul yakni hujan es seperti yang terjadi di Kota Kembang. Fenomena itu terjadi karena adanya awan CB yang biasanya mencapai ketinggian lebih dari 5 kilometer yang dapat mencapai titik beku 0° Celsius.

“Awan ini bisa terus naik hingga mencapai 10 kilometer, sehingga bisa mencapai titik beku. Pada ketinggian lebih dari lima kilometer, massa uap air di awan ini mengalami penurunan suhu yang cukup dingin hingga terbentuk kristal es. Bila sudah tidak kuat menahan beban, awan akan turun ke bumi dalam bentuk hujan es dan sebagian lagi mencair,” paparnya.

Budi menambahkan, masyarakat harus mewaspadai potensi perubahan cuaca secara mendadak pada sore hari. Potensi itu masih sangat tinggi terjadi. Seperti yang terjadi kemarin, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang masih akan ada hingga pertengahan Mei.

“Kalau sudah terdapat awan gelap/awan hujan dan perubahan udara menjadi dingin secara mendadak, jangan berlindung di bawah pohon atau jembatan penyeberangan. Khawatirnya kondisi yang rapuh dan berpotensi roboh diterjang angin,” imbuhnya.

Analisa BMKG, hampir seluruh Jawa dan barat Sumatera pekan ini diliputi badai. Citra satelit Himawari 8 menunjukkan, pada siang hari pertumbuhan awan menuju fase matang. Suhu puncak awan di sebelah barat Jakarta mencapai minus -70°. Itu mengindikasikan pertumbuhan awan kumulunimbus.

“Untuk Jabodetabek dan sebagian Jawa Barat peluang hujan masih ada hingga seminggu ke depan. Hujan umumnya terjadi pada sore dan petang hari, setelah proses konvektif di dalam awan terpacu selepas panas maksimum siang hari,” terang prakirawan BMKG Siswanto.

Intensifnya hujan pada musim peralihan/pancaroba disebabkan panas permukaan pada pagi dan siang hari yang meningkat dengan cepat. Dari pagi ke siang, lonjakan suhu bahkan mencapai 4°C. Pada siang hari, puncak suhu maximum berkisar 32–34°C di pulau Jawa.

Perubahan panas yang tinggi pada atmosfer bawah yang lembab menyebabkan gerak naik massa udara yang kuat pada proses konveksi sehingga mencipta awan awan gelap menjulang tinggi seperti menara yg disebut awan kumulunimbus. Awan kumulunimbus inilah yang dapat menurunkan hujan lebat disertai petir dan angin turun yang kencang.(ric)

Baca Juga