Beranda Berita Utama

Badai Es Hantam Bandung

HANCUR: Petugas PLN melakukan pengecekan terhadap saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) yang tertimpa pagar pembatas Singgasana Driving Range Golf di kompleks Singgasana Pradana, Bojongloa Kidul, Kota Bandung, Rabu (3/5). RIANA SETIAWAN/RADAR BANDUNG

BANDUNG–Kota Kembang kembali dihantam badai. Hujan deras disertai angin kencang dan butiran es kemarin (3/5) merusak infrastruktur dan menumbangkan sejumlah pohon.

Pagar besi pengaman Singga- sana Pradana Golf Mekar Wangi, Cibaduyut, Kota Bandung, roboh hingga menimpa saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET).

Ketua Harian Ikatan Warga Singgasana Pradana, Darmin Yudha Prawira mengatakan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB, saat hujan deras mengguyur Bandung. “Yang roboh ini pagar golf. Yang rusak sekitar 75 meter mengenai jalur SUTET,” kata Darmin.

Darmin terpaksa memesan dua alat berat untuk memperbaiki kerusakan pagar tersebut. Pihaknya pun menyadari akibat insiden itu, beberapa wilayah mengalami padam listrik. “Ketinggian pagar besi pengaman sekitar 25 meter. Usia pagar besi itu sendiri, baru berumur lima tahun saja. Insiden ini, bukan faktor usia, tetapi lebih kepada bencana alam,” katanya.

Untuk sementara waktu, Darmin belum bisa memperkirakan kerugian material akibat bencana tersebut. Bersama PLN Bandung pihaknya pun akan melakukan koordinasi sebagai tindak lanjut. “Belum tahu, ya, soal kerugian, kami juga akan komunikasi dengan PLN. Ini musibah, bukan disengaja atau apa,” tandasnya.

Dinas Kebakaran dan Penang- gulangan Bencana (DKPB) Kota Bandung menerjunkan 40 personel untuk menangani pohon yang mengalami gangguan akibat diterjang hujan lebat disertai angin kencang. Personel, dibagi ke tiga titik lokasi pohon yang terkena gangguan, yakni Jalan Bengawan, Jalan Asia Afrika, dan Jalan Laswi.

Personel dilengkapi tiga unit mobil rescue, dilengkapi peralatan- peralatan seperti mesin pompa air/water pump, pemotong logam dan pemotong pohon. Tim DKPB juga dibantu warga sekitar yang berada di lokasi kejadian. Warga dan DKPB bahu-membahu menyingkirkan dahan yang patah dari jalanan agar tidak membaha- yakan dan mengganggu pengen- dara yang melintas.

Kepala DKPB Kota Bandung Ferdi Ligaswara mengatakan, pihaknya telah mengantisipasi gangguan semacam ini dengan membentuk tim di kewilayahan yang bertugas untuk menjadi tangan pertama yang bertindak saat terjadi gangguan atau ben- cana. Mereka juga mem berikan wawasan dan informasi mengenai penanganan kebencanaan kepada masyarakat.

“Pemerintah kota sudah punya sekitar 25 ribu orang relawan bencana yang tersebar di setiap kewilayahan. Mereka sudah dibina dan dilatih. Fungsinya, mereka lebih cepat merespons bencana yang terjadi di daerahnya masing-masing, karena untuk Damkar time response-nya membutuhkan waktu 15 menit,” kata Ferdy.

Pada hujan lebat yang terjadi kali ini, pohon di Jalan Bengawan mengalami dahan patah karena tersambar petir. Sementara di Jalan Asia Afrika, dahan pohon patah karena diterjang angin kencang. Selain itu, kanopi golf di daerah Jalan Indra Praharsa Timur yang menimpa tiga unit roda empat.

Sementara itu, Kepala Dinas Peru mahan, Kawasan Pemu- kiman, Pertanahan dan Perta- manan (DPKP3) Arif Prasetya menuturkan, pihaknya sudah sering melakukan monitoring terhadap pohon-pohon di seluruh Kota Bandung. Terhitung, ada 40.000-an pohon yang berada di bawah pengawasannya.

Dari hasil monitoring yang dilakukan, sudah ada 20 persen pohon yang diberi penanganan, mulai dari pengurangan beban pohon, hingga perawatan lainnya. Hal itu dilakukan secara terus-menerus untuk menjaga agar pohon tersebut tetap sehat dan tidak mengalami gangguan yang membahayakan. “Ini bagian dari proses pembuatan kartu pohon, tapi kami sedang membuat pendataan dulu,” tandasnya.

Di tempat terpisah, bencana juga mengintai Kabupaten Bogor. Kali ini menimpa SMPN Satu Atap 01 Tenjo. Atap salah satu ruang kelas roboh setelah diterpa hujan deras, dini hari, kemarin (3/5). Kepala SMPN Satu Atap 01 Tenjo Mamay mengatakan, kejadian itu pertama kali diketahui Budi (30) guru matematika, yang baru tiba di sekolah sekitar pukul 06.30 WIB.

“Ruang kelas yang atapnya roboh memang sudah rapuh. Sebab, kayu-kayu penyangga sudah keropos,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Kejadian ini, sambungnya , sama sekali tidak mengganggu prosse ujian nasional (UN) yang sedang dijalani siswa. Pasalnya, ruang yang atapnya ambruk memang sedari awal sudah dikosongkan. Sementara soal kerugian, pihaknya belum dapat memastikan berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk perbaikan.

Pihak sekolah juga sedang memikirkan opsi lain agar siswa bisa kebagian ruang belajar. Sebab, atap ruangan yang ambruk, bersebelahan dengan dua ruangan kelas. “Rencananya, mungkin akan menumpang dulu sementara ke SDN 03 Ciomas karena hanya bersebelahan. Di samping itu, demi kenyamanan dan ketenangan siswa juga pada saat belajar,” paparnya.

Ia berharap bantuan dari pemerintah segera datang. Apalagi, dia khawatir kerusakan atap ter- sebut akan merembet ke rua ngan lain. “Kalau melihat kondisi seperti ini, kasihan siswanya. Mereka tidak nyaman dan kami selaku pendidik tidak tenang,” pungkasnya. (cr4/bbb/c)

 

Baca Juga